Rabu, 02 Desember 2015

Tagged Under:

Seni Sastra

By: Unknown On: 04.59
  • Share The Gag
  • Novel “Namaku Hiroko”

    Dalam  novel “Namaku Hiroko”  karya  N.H  Dini ini terdapat ketidak setaraan gender yang ditinjau melalui pendekatan feminisme. Dalam novel ini didapatkan ketidakadilan gender yang termanisfestasikan ke dalam 5 bentuk yaitu marginalisasi yang terjadi dirumah tangga yang menimpa Natsuko dan ibu oleh ayahnya, streotype yang menganggap bahwa perempuan mudah digoda dengan materi (materialistis) dan perempuan yang berbadan gemuk terlihat jelek, Subordinasiyaitu kedudukan perempuan yang lebih lebih rendah dari laki-laki yang terjadi dalam sektor rumah tangga yang menimpa majikan Hiroko dan keluarga Natuko, kekerasanlangsung yaitu tekanan fisik yang dialami oleh Hiroko, Kekerasan langsung yaitu pemukulan yang dilakukan oleh suami majikan Hiroko kepada istrinya, pelacuran yang menimpa pelayan di bar, kekerasan terselubung yang menimpa Hiroko yang dilakukan oleh suami majikannya, dan kekerasan tidak langsung yang menimpa para pelayanyang dilakukan oleh pelanggan, dan beban ganda yang merupakan pekerjaan yang ditanggung oleh Hiroko sebagai pembantu, dan Emiko yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah.

    Sinopsis:
     
    Hiroko adalah seorang gadis desa anak sulung dari keluarga petani miskin. Ibu kandung Hiroko meninggak saat Hiroko berumur 4 tahun kemudian ayah Hiroko menikah lagi dan dari ibu tirinya itu Hiroko mempunyai dua adik laki-laki. 

    Karena kehidupan Hiroko yang miskin, Hiroko tidak mampu meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Hiroko hanya lulusan sekolah rendah saja.

    Suatu hari ayah Hiroko pulang dari ladang bersama seorang tengkulak namanya Tamura-san. Beliau mengatakan bahwa saudaranya membutuhkan seorang pembantu rumah tangga. Setelah terjadi kesepakatan bersama akhirnya beberapa hari kemudian berangkatlah Hiroko dari desanya untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
    Hiroko bekerja di rumah pasangan suami istri yang sudah berumur lanjut. Di sana Hiroko mulai merasakan perbedaan kehidupan antara di desa yang serba kesusahan dengan kehidupan kota yang memanjakan.
    Di keluarga majikannya Hiroko tidak lama bekerja karena kemudian datang kabar dari desa bahwa neneknya meninggal dunia. Akhirnya Hiroko pun kembali pulang ke desanya.
    Tak terasa sudah sepuluh bulan lamanya Hiroko tinggal di desa, sampai suatu saat Hiroko bertemu dengan teman lamanya, Tomiko. Tomiko mengajak Hiroko untuk kembali ke kota karena kata Tomiko di kota sekarang banyak lapangan kerja membutuhkan pekerja atau pembantu rumah tangga. Dengan ijin ayahnya berangkatlah Hiroko bersama Tomiko ke kota Pelabuhan Kobe.
     Di sana Hiroko bekerja di rumah keluarga konsul bahasa Perancis. Maka untuk sementara Hiroko pun tinggal bersama Tomiko. Sampai akhirnya suatu hari Hiroko mendapat pekerjaan baru, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikan Hiroko yang baru adalah pasangan suami istri yang masih muda, mereka memiliki seorang bayi laki-laki.
    Di rumah majikannya yang baru Hiroko mendapat pengalaman baru, Hiroko mengenal cinta, Hiroko menyukai adik majikannya yang bernama, Sanao. Dan rupanya Sanao pun begitu dia menyukai Hiroko. Akan tetapi keadaan dan perbedaan statuslah yang menjadikan jurang pemisah sehingga membuat mereka tidak bisa menyatukan cintanya. Hingga suatu malam Sanao berhasil “menyentuh” Hiroko untuk pertama kalinya.
    Setelah pengalaman pertamanya dengan Sanao kehidupan Hiroko berubah. Majikan Hiroko menjadikannya sebagai budak nafsunya. Sampai akhirnya Hiroko tidak tahan lagi dan memilih untuk keluar dari pekerjaannya.
    Hiroko kemudian berhenti bekerja dari rumah majikannya itu dan kembali bersama Tomiko sahabatnya. Sambil menunggu pekerjaan baru Hiroko membantu pekerjaan Tomiko di rumah majikannya itu.
    Hiroko kembali mendapat pekerjaan, dia diterima bekerja di sebuah toko besar. Di sana ia bertugas sebagai penerima tamu yang datang ke toko itu. Walau gajinya kecil Hiroko sangat menyukai pekerjaan yang baru itu. Suatu waktu Hiroko berkenalan dengan seorang pria bernama, Kishihara Yukio seorang pria yang berpenghasilan cukup tinggi dan menyukai Hiroko. Akan tetapi Hiroko tidak begitu menyukainya. Hiroko hanya menyukai pemberian materinya saja.
    Setelah lama bekerja di toko itu Hiroko berhasil mengambil hati salah seorang atasannya, Nakajima-san namanya. Ia begitu memperhatikan dan mendorong kemajuan Hiroko dalam bekerja.
    Atas saran Nakajima-san Hiroko tinggal di sebuah apartemen kecil di atas sebuah bar bernama, Manhattan. Di tempat tinggalnya yang baru Hiroko mengenal kehidupan malam di kotanya. Di sana juga Hiroko berkenalan dengan Soeprapto mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Jepang, akan tetapi persahabatannya dengan Soeprapto tidak berjalan lama, karena Soeprapto harus kembali ke Indonesia.
    Setelah lama Soeprapto menghilang, Hiroko mendapat surat undangan yang isinya meminta Hiroko untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan dalam surat itu Soeprapto secara langsung berniat untuk mempersunting Hiroko. Namun Hiroko menolaknya secara halus. Hiroko tetap datang ke Indonesia memenuhi undangan Soeprapto atas saran Nakajima-san. 
    Setelah berada di Indonesia, Hiroko diajak berkunjung ke beberapa tempat wisata. Hiroko begitu mengagumi keramahan bangsa Indonesia dan keluhuran budayanya. Yang paling membuat Hiroko tertarik adalah kerajinan kain batik khas Jogja. Hirokopun berniat memperkenalkan corak kain batik tersebut ke masyarakat Jepang.
    Pergaulannya yang luas membuat wawasan pengetahuan Hiroko bertambah juga. Hingga atas pertimbangan itu pula Nakajima-san mempercayakan Hiroko untuk mengambil keputusan penting demi kemajuan toko tempat Hiroko bekerja.
    Pada suatu kesempatan Hiroko berkenalan dengan Natsuko, seorang gadis keluarga kaya. Natsuko yang pendiam begitu percaya pada Hiroko dan menganggap Hiroko sebagai teman sejatinya.
    Keinginan Hiroko untuk mendapatkan segala kesuksesan hidup, menjadikannya menghalalkan segala cara asal tidak mencuri. Atas dasar itu pula Hiroko menjadi penari kabaret di sebuah klub malam. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya, membuat keberuntungan bagi Hiroko sehingga menjadi terkenal. Ia dibayar cukup mahal untuk setiap pertunjukannya.
    Dalam suatu pertunjukan tarinya Hiroko berkenalan dengan Yoshida, seorang pengusaha kapal terkenal di kota Kobe. Yoshida begitu tergila-gila pada Hiroko sehingga apapun kemauan Hiroko selalu dipenuhinya. Akan tetapi, hubungan mereka terhalang karena ternyata Yoshida adalah suami dari Natsuko sahabat sejatinya. Akhirnya, Yoshida hanya menjadikan Hiroko sebagai wanita simpanan saja tanpa kejelasan status istri yang sah.
    Di akhir cerita Hiroko menjadi pemilik dari bar Mahattan tempat dahulu ia tinggal. Sebagian besar saham toko tempatnya bekerja pun berhasil dikuasainya. Bahkan rumah Nakajima-san atasan Hiroko dahulu berhasil dimilikinya, Yoshida yang membelikan rumah itu untuk bekal Hiroko di hari tua.
    Atas jerih payahnya itu, kini Hiroko berhasil menjadi seorang yang sukses di kota besar. Dia bisa menyekolahkan dua adik tirinya dan membiayai kehidupan kedua orang tuanya di desa.


    sumber: http://sastra33.blogspot.co.id/2012/03/sinopsis-novel-namaku-hiroko-karya-nh.html
     
    BukuTentangPerempuan “Natasha


    Dalam buku ini diceritakan jutaan perempuan yang ternistakan. Hidup dalam kekejaman yang brutal. Terinjak martabat dan harga diri. Bahkan, sejumlah pihak menyebut para perempuan malang itu diperlakukanseperti hewan ternak.
    Selainituadajugaperdagangan perempuan, para perempuan muda dan cantik, dari negara reruntuhan Rusia, Balkan, dan Eropa Timur lainnya, diculik, ditipu, disekap, lalu dijual ke berbagai penjuru dunia. Dulu, bisnis dagang perempuan, melulu bersumber dari China, Taiwan, Thailand, atau Filipina. Kini bergeser ke sana.
    Lalu, ada fakta lain, yaitu modus yang benar-benar baru. Seperti memanfaatkan jalur distribusi dan mata rantai internasional dalam memasok para perempuan itu, yang mengikuti pola perdagangan narkotika dan senjata api. Terakhir, karena adanya fakta bahwa Internet justru memperparah kejahatan woman trafficking (perdagangan perempuan). Setelah era internet, maka menjamur pula bisnis syahat pemuas hidung belang. Mulai dari pesan perempuan, seks interaktif, wisata seks internasional, hingga pernikahan sementara.
    Semua yang tersaji dalam buku ini adalah memperlihatkan wajah buruk peradaban manusia, Jika mencerna buku ini secara keseluruhan, tergambar seolah para perempuan bergerak dalam kereta sejarah yang lamban. Dahulu, mereka dijadikan sesembahan untuk korban para dewa. Lalu, dianggap sebagai pembawa keruntuhan bagi para raja. Pernah juga kaum hawa dianggap sebagai penyebar penyakit, lalu diburu sebagai tukang tenung atau sihir. Kini, dalam politik demokratis dan kebebasan informasi, mereka menjadi komoditas. https://ninanurmilah.wordpress.com/category/e-book-gender/

    Novel “PerempuanBerkalungSorban”
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLPnS5UDgJ_dPZ_cgN0YFazrsyCYR7soKzNweF4PyPx8nu0QOuQzKKTzlTX9UlTgstvQllpisQVxUPKS09R2VMNI4ZovBHmyTLVfh1wBEh5O05XrQOdn4TNFS3GtL18y5ZRVHNW69QR2g/s1600/DE.jpg

    Novel ini merupakan karya religious yang cerdas mendobrak kebiasaan-kebiasaan yang membuat posisi wanita menjadi minor. Tokoh utama novel ini bernama Annisa. Ia lahir dan tumbuh di kalangan pesantren yang memegang adat keagamaan secara kokoh. Namun seiring perkembangannya, Annisa mulai merasakan adanya perlakuan yang ganjil bagi dirinya. Ia merasa haknya dikecikan jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Annisa tak diijinkan berlatih menunggang kuda seperti saudara laki-lakinya, ia tak diijinkan berbicara dan mengemukakan pendapatnya, ia harus diam saat di meja makan, ia tak boleh terlambat bangun dan harus rajin serta masih banyak lagi perlakuan berbeda yang diterima oleh Annisa dari orang tuanya sendiri yang merupakan Kiyai terhormat di pesantren.
    NovelAkuLupaBahwaAkuPerempuan”
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiwOiF8Agl_ikOMDNT9gWstEREyyQvvj8kHps1WdLW8olD6EylL1mIB1pb6iq1hHXbetBKISGVx9oUJODGD6W30-EjjwNkgkRLI9dqo6rqs1jlkSLIbRxCK9ssQLH7egeWlSk1ZJgvtY8/s1600/fe.png
    Dalam novel ini, pembaca diajak untuk menyelami kehidupan seorang perempuan yang berambisi besar menjadi politisi sukses. Suad, tokah utama dalam cerita ini, mulai berkenalan dengan dunia politik saat masih duduk di bangku SMA.
    Suadadalahperempuan yang cerdas dan berambisi. Keaktifannya dalam politik diimbangi dengan prestasi yang memuaskan disekolah, begitupun ketika menjadi mahasiswa. Menjadi orator, menghadiri pertemuan-pertemuan politik, sebagai pelajar ia selalu duduk di peringkat pertama. Ketika akhirnya Suad jatuh cinta pada pria bernama Abdul Hamid, dari sinilah bermunculan peperangan antara ego politisi dan ego perempuannya. Kiprahnya dalam berbagai organisasi politik maupun pergerakan perempuan menghanyutkanya dalam lingkar elit politik. Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Semakin dekat dunia politik dengannya, semakin ia jauh dari suaminya, perceraian pun tak terelakkan. Faizah anak semata wayangnya, memanggilnya dengan Suad. Padahal dalam hatinya ia begitu merindukan sebutan ibu untuk dirinya.
    Ihsan Abdul Qudus, penulis novel ini,sangatpandai menuturkan kisah pergolakan kehidupan Suad. Ia dengan lugas menceritakan seorang perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender. Bagaimana Suad menghadapi keluarganya, saat dimana Suad berusaha menjaga eksistensi karir politiknya tanpa merusak hubungan dengan suaminya, utamanya kala Suad menyerukan pada rekan-rekannya, bahwa ia adalah wanita, dan itu bukan penghalang baginya untuk memantapkan langkah di dunia politik.
    Lalu Ihsan menghadirkan pergolakan batin Suad sebagai pembanding. Ia mengisahkan bahwa bagaimanapun, Suad tetap membutuhkan kehadiran lelaki dalam hidupnya. Meski pada akhirnya ia selalu menuai perceraian. Kemudian Ia bertutur tentang Suad yang begitu terpukul mengetahui anaknya lebih dekat dengan ibu tirinya, Samirah. Faizah lebih dekat dan terbuka dengan Samirah, daripada dengan dirinya, ibu kandungnya.

    Novel “Lasmi”
    https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1100737671979324650#editor/target=post;postID=4943475393957129562;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=17;src=link
     

    Lasmi adalah perempuan yang ingin masyarakat di sekitar tempat tinggalnya bisa maju lewat pendidikan. Meski Indonesia sudah lama merdeka, sudah hampir 20 tahun tapi kemajuan belumlah merata sampai ke desanya di daerah Jawa Tengah. Berawal dari sekedar mengajar Mak Paini, tetangganya untuk baca-tulis, akhirnya banyak warga desa yang belajar membaca di rumahnya.
    Pemikirannya yang maju dan terbuka membuatnya dikenal dan bertemu dengan banyak orang yang berpikiran sama. Itulah yang menyebabkan Lasmi bertemu dengan anggota aktif Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan kemudian terlibat aktif di dalamnya. Pada masa itu, ada kesamaan apa yang diinginkan Lasmi dengan kegiatan yang dilakukan Gerwani. Aktivis-aktivis Gerwani giat memberantas buta huruf, memberikan perempuan berbagai kursus rumah tangga seperti memasak dan menjahit, menentang kenaikan harga-harga, serta menuntut upah buruh perempuan agar setara dengan laki-laki. Yang paling menonjol adalah perjuangan Gerwani yang mempersoalkan soal UU Pernikahan yang lebih banyak merugikan posisi perempuan di dalam rumah tangga, terutama mereka menginginkan dimasukkannya anti-poligami dalam UU tersebut.
    Maka perubahan demi perubahan terjadi pada kehidupan Lasmi. Lasmi terpilih menjadi ketua Gerwani di desanya. TK Tunas berganti nama menjadi TK Melati, rumahnya menjadi kantor cabang Gerwani dan Barisan Tani Indonesia (BTI) di desanya. Permintaan Sutikno sang suamikepada Lasmi agar bisa membagi waktu, karena mereka sudah memiliki Gong, anak yang menggemaskan, buah perkawinan mereka.
    Prahara terjadi di tahun 1965, imbasnya meluas kemana-mana. Termasuk ke diri Lasmi dan Sutikno. Sweeping dan pembunuhan sadis menjadi berita sehari-hari. Sasarannya adalah PKI, PGRI Non-vaksentral, SOBSI, BTI, IPPI, CGMI, juga Pemuda Rakyat dan Gerwani. Maka mulailah episode pelarian Lasmi dan keluarganya, yang membawa sengsara dan kesedihan. Ujungnya sudah bisa ditebak : tragis.

    TariSaman “KreasiPerempuan Aceh”

     

    Tari saman adalah suatu tarian dimana perempuan muda duduk bersimpuh. Mereka menyuguhkan gerak tubuh yang membentuk tarian. Berawal dengan gerakan-gerakan ringan dan pelan, biasanya lebih banyak gerakan tangan dan kepala, sampai kemudian menjadi lebih cepat. Di tengah tarian tersebut, terkadang mereka berhenti mendadak seketika di saat orang-orang yang menonton terhanyut dengan gerakan-gerakan yang cenderung mistis.
    Selain gerakan-gerakan tersebut, tak ketinggalan syair-syair bernuansa keislaman menyertai semua gerak tari dimaksud. Syair yang di dalamnya berisi berbagai macam nasehat, petuah, sampai dengan pesan-pesan bernada dakwah yang menjadi kekhasan kesenian Aceh. Syair tersebut dilantunkan dalam bentuk nyanyian oleh seorang perempuan yang biasanya lebih tua, disebut dengan Cahi. 
    Nah, tarian tersebut tidak sekadar menjadi hiburan semata. Tetapi ia juga menjadi media yang memberi ruang pada perempuan Aceh untuk menyuarakan aspirasinya, ekspresi seninya, dan kemampuannya sebagai manusia yang diberikan rasa dan karsa oleh Yang Mahakuasa.
    Lewat kesenian ini juga, perempuan leluasa menunjukkan potensi yang mereka miliki dalam hal berkesenian. Di samping, ini juga menjadi cara masyarakat Aceh dalam menunjukkan apresiasi atau penghargaan mereka terhadap perempuan.


    Tokoh Pewayangan Perempuan

    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ_mzdPV2dIsQ8T43-yAR43uV2CG90hOUremty047xrGu-X0LXwcbz54bO5dsHJz5pAXs5l9OWIMYbvLO97Jz8KFB_wMxnbzQL5UvnGfvg9yuQQ5mXybBBvv5Vusloq2V5EMwQ-BV4W4Dl/s320/wayang+dewi+sukesi.jpg

    Dewi Sukesi adalah putri raja rasaksa Sumali di Alengka dengan Dewi Danuwati, Danuwati putri raja Mathili. Walaupunia berujud rasaksa namun Prabu Sumali berwatak pandita keturunan batara Brama. Putrinyapun cantik dan berbudi luhur, tidak ada yang mengiraia putri seorang rasaksa. Oleh Sindusastra digambarkan bahwa kecantikan dewi Sukesi mengalahkan keindahan bulan, tidak ada yang mengira kalau putrirasaksa. Seakan-akan bidadari surga, putriraja Alengka yang betul-betul unggul di dunia.Dalam percakapan antara Resi Wisrawa dengan Prabu Sumali pada waktu melamar Dewi Sukesi, diceritakan oleh Sumali dalam Serat Arjunasasrabahu sebagai berikut :
    Seandainya dia lahir sebagai pria, putramu Sukesi itu miripWisrawana. Ia sangat cerdas, tajam perasaannya, pandai danLuwes berbahasa (berbicara), pandai tentang segala ilmu. Sayang lahir sebagai wanita, sejak kecil senang berolah ilmu.
    Ketikaia dewasa, menjadi buah bibir dinegara lain, banyak raja datang untukmeminang, tetapisemuanya ditolak. Ia bersumpah, hanya maumenikah dengan Satriya yang luhur atau raja yang dapat menjelaskanmakna sastra cetha arjendra hayuning bumi, bahkan sumpahnya yang disaksikan oleh para maharesi, dijadikan sayembara, bila tidak mendapatkan raja yang unggul, yang dapat menjelaskan ilmu luhur tersebut, ia akan wadat, tidak menikah.

    Novel “SamandanFear of Flying
    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmL2MfBl7zKl9hAiEhzMmI6jrhr7TbZiT9ajEeupXQz-VYKz6Ew0FfDU1P7BTi33lR5kSj9HmGiwOk_W-ZFEck59eP1lOwI6EiwJFOv6-zPjgIzUE5RdOS2EklfkXZEgiqzBdEfzllFys/s1600/saman.jpg
    Novel Saman maupun Fear of Flying adalah dua novel yang menganut aliran feminisme yang lebih menonjolkan wanita dalam ceritanya, sehingga banyak kritik terhadap penulisnya dibanding pada karyanya karena dengan bahasa yang menjorok kedalam kaitan seks, sehingga terdapat konflik yang timbul di masyarakat apalagi penulis adalah seorang perempuan, yang tidak pantas untuk mempublikasikan karya yang memalukan itu. Sehingga mereka menghadapi masalah psikologis yang rumit, perempuan yang menulis dianggap mengingkari tanggung jawabnya dalam menjalankan kewajiban di rumah tangga. Namun Ayu Utami maupun Erica Jong tetap pada pendiriannya sebagai penulis yang profesional dan memberanikan diri untuk menyebarluaskan kayanya menghadapi tantangan dari masyarakat.
    Novel Saman dan Fear of Flying adalah suatu karya yang diminati oleh masyarakat, terbukti dalam pemasarannya yang dicetak berulang kali. Namun karya ini juga memicu berbagai macam kritik dari masyarakat maupun kritikus sastra sendiri karena tidak pantasnya seorang perempuan mengangkat masalah seks dalam karya mereka, karena dianggap merendahkan diri dan menjadi aib bagi perempuan. Rahman juga menyebutkan para kritikus sastra yang setuju dengan adanya seks dalam karya sasta maupun yang tidak setuju seperti Medy Lukito, Sunaryo Basuki Ks., Aquarini P. Prabasmoro, Goenawan Mohamad, hingga Millicent Dillon.

    Novel “Larung”

    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj37UlUetyMHmEHLyRKb6MSyIEvXej9fM5zHLwh7c84QVDQBd84lclNmSVy1pQCtTMzqY7oh3cveyBKuZlgEgYlgI8nalNd6d6jhc4N5qVYkbRJp0AqKD7f-Fpf9OpS08emxRZW9VH3KDrn/s320/larung.jpg
    Sumber foto/http://idliterature.files.wordpress.com


    Dalam novel Larung ini terdapat kajian feminisme, konsep patriarki, ajaran seksualitas, dan kemitra sejajaran tokoh wanita, serta sikap pengarang terhadap tokoh wanita dalam novel Larung tersebut.

    Novel "Perempuan Bernama Arjuna"




    sinopsis:
    Nama Arjuna bukanlah nama yang biasa untuk seorang perempuan. Mudah diterka pemerian namanya tergolong “langka” untuk seorang perempuan. Arjuna adalah sebuah nama dari kesalahan dalam taksiran keluarganya. Ini dapat dilihat, Awalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan dia lahir sebagai anak laki-laki dan untuk itu ketika  usia kandungan 7 bulan dalam rahim ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah-putih bagi Arjuna disertai baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga dari awal syiar Islam di tanah Jawa.
    Tapi, dengan “ketidaksengajaan” pada pemberian nama, Arjuna berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain sebaya, ia mempelajari filsafat dengan tekun. Arjuna menjadi mahasiswa filsafat di sebuah perguruan tinggi di Belanda. Ditemani Amin al-Ma’luf, ia mengisahkan dirinya yang menyenangi filsafat dari klasik hingga modern, dari teologi ke kosmologi.
    Dalam kesehariannya ia tidak luput dari pemikiran-pemikiran filsafat yang selalu mempertanyakan muasal alam, Tuhan dan manusia. Karena ia kuliah di jurusan filsafat, mau tidak mau ia harus menyoalkan pemikiran dan mengetahui setiap filsuf dengan pola pikirnya.
    Terkadang ia gemar merenung dan berdiskusi. Ketika di kelas, dosennya yang bernama Bloembergen sering mengajak diskusi tentang filsafat klasik dengan Arjuna. Selain berdiskusi tentang filsafat modern bersama Amin al-Ma’luf, teman satu kelasnya di jurusan filsafat. Memang, tidak seperti umumnya perempuan, Arjuna memilih filsafat untuk belajar tentang kehidupan.
    Kodrat seorang perempuan tak dapat dikesampingan oleh Arjuna. Seorang perempuan segarang apapun “nalar”; Arjuna memeiliki pemikiran yang liar dalam filsafat, terlihat dari renungan atau komentar-komentar selama kuliah, tapi Arjuna itu tetaplah seorang perempuan.
    Peristiwa menarik dialami Arjuna ketika merasakan jatuh cinta kepada pengajarnya, Profesor van Damme. Arjuna terpukau dengan gaya tutur Van Damme. Selama kuliah filsafat, Arjuna mempelajari filsafat dan teologi dari Van Damme. Tidak disangka, dari pengajaran filsafat ke pertanyaan dan berakhir dengan dialog, mereka berdua akhirnya saling suka. Alurnya berjalan sederhana saja, seringnya mereka bertemu di kampus dan membuat mereka melanjutkan pertemuan di rumah kontrakan Arjuna. Akhirnya, saling suka-menyukai pun tak dapat dihindari.
    Namun, Arjuna juga sebagai orang timur–keturunan Cina-Jawa–akhirnya tidak melupakan tradisi sebagai seorang perempuan ke-timur-an. Akhirnya, ia menikah dengan Van Damme dan berbulan madu ke Bandung.
    Sumber:
    Remy Sylado, Perempuan Bernama Arjuna : Filsafat Dalam Fiksi, Nuansa Cendekia, Indonesia, 2013.

    0 komentar:

    Posting Komentar