Novel “Namaku Hiroko”
Dalam novel “Namaku Hiroko” karya N.H Dini ini
terdapat ketidak setaraan gender yang ditinjau melalui pendekatan
feminisme. Dalam novel ini didapatkan ketidakadilan gender yang termanisfestasikan
ke dalam 5 bentuk yaitu marginalisasi yang terjadi dirumah tangga yang menimpa
Natsuko dan ibu oleh ayahnya, streotype yang menganggap bahwa perempuan
mudah digoda dengan materi (materialistis) dan perempuan yang berbadan gemuk
terlihat jelek, Subordinasiyaitu kedudukan perempuan yang lebih lebih
rendah dari laki-laki yang terjadi dalam sektor rumah tangga yang menimpa
majikan Hiroko dan keluarga Natuko, kekerasanlangsung yaitu tekanan fisik
yang dialami oleh Hiroko, Kekerasan langsung yaitu pemukulan yang dilakukan oleh
suami majikan Hiroko kepada istrinya, pelacuran yang menimpa pelayan di bar,
kekerasan terselubung yang menimpa Hiroko yang dilakukan oleh suami majikannya,
dan kekerasan tidak langsung yang menimpa para pelayanyang dilakukan oleh
pelanggan, dan beban ganda yang merupakan pekerjaan yang ditanggung oleh
Hiroko sebagai pembantu, dan Emiko yang berprofesi sebagai ibu rumah
tangga sekaligus pencari nafkah.
Sinopsis:
Sinopsis:
Hiroko adalah seorang gadis desa anak sulung dari keluarga petani miskin.
Ibu kandung Hiroko meninggak saat Hiroko berumur 4 tahun kemudian ayah Hiroko
menikah lagi dan dari ibu tirinya itu Hiroko mempunyai dua adik laki-laki.
Karena kehidupan Hiroko yang miskin, Hiroko tidak mampu meneruskan
pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Hiroko hanya lulusan sekolah rendah
saja.
Suatu hari ayah Hiroko pulang dari ladang bersama seorang tengkulak namanya
Tamura-san. Beliau mengatakan bahwa saudaranya membutuhkan seorang pembantu
rumah tangga. Setelah terjadi kesepakatan bersama akhirnya beberapa hari
kemudian berangkatlah Hiroko dari desanya untuk bekerja sebagai pembantu rumah
tangga.
Hiroko bekerja di rumah pasangan suami istri yang sudah berumur lanjut. Di
sana Hiroko mulai merasakan perbedaan kehidupan antara di desa yang serba
kesusahan dengan kehidupan kota yang memanjakan.
Di keluarga majikannya Hiroko tidak lama bekerja karena kemudian datang
kabar dari desa bahwa neneknya meninggal dunia. Akhirnya Hiroko pun kembali
pulang ke desanya.
Tak terasa sudah sepuluh bulan lamanya Hiroko tinggal di desa, sampai suatu
saat Hiroko bertemu dengan teman lamanya, Tomiko. Tomiko mengajak Hiroko untuk
kembali ke kota karena kata Tomiko di kota sekarang banyak lapangan kerja
membutuhkan pekerja atau pembantu rumah tangga. Dengan ijin ayahnya
berangkatlah Hiroko bersama Tomiko ke kota Pelabuhan Kobe.
Di sana Hiroko bekerja di rumah keluarga konsul bahasa Perancis. Maka untuk
sementara Hiroko pun tinggal bersama Tomiko. Sampai akhirnya suatu hari Hiroko
mendapat pekerjaan baru, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikan
Hiroko yang baru adalah pasangan suami istri yang masih muda, mereka memiliki
seorang bayi laki-laki.
Di rumah majikannya yang baru Hiroko mendapat pengalaman baru, Hiroko
mengenal cinta, Hiroko menyukai adik majikannya yang bernama, Sanao. Dan
rupanya Sanao pun begitu dia menyukai Hiroko. Akan tetapi keadaan dan perbedaan
statuslah yang menjadikan jurang pemisah sehingga membuat mereka tidak bisa
menyatukan cintanya. Hingga suatu malam Sanao berhasil “menyentuh” Hiroko untuk
pertama kalinya.
Setelah pengalaman pertamanya dengan Sanao kehidupan Hiroko berubah.
Majikan Hiroko menjadikannya sebagai budak nafsunya. Sampai akhirnya Hiroko
tidak tahan lagi dan memilih untuk keluar dari pekerjaannya.
Hiroko kemudian berhenti bekerja dari rumah majikannya itu dan kembali
bersama Tomiko sahabatnya. Sambil menunggu pekerjaan baru Hiroko membantu
pekerjaan Tomiko di rumah majikannya itu.
Hiroko kembali mendapat pekerjaan, dia diterima bekerja di sebuah toko
besar. Di sana ia bertugas sebagai penerima tamu yang datang ke toko itu. Walau
gajinya kecil Hiroko sangat menyukai pekerjaan yang baru itu. Suatu waktu
Hiroko berkenalan dengan seorang pria bernama, Kishihara Yukio seorang pria
yang berpenghasilan cukup tinggi dan menyukai Hiroko. Akan tetapi Hiroko tidak
begitu menyukainya. Hiroko hanya menyukai pemberian materinya saja.
Setelah lama bekerja di toko itu Hiroko berhasil mengambil hati salah
seorang atasannya, Nakajima-san namanya. Ia begitu memperhatikan dan mendorong
kemajuan Hiroko dalam bekerja.
Atas saran Nakajima-san Hiroko tinggal di sebuah apartemen kecil di atas
sebuah bar bernama, Manhattan. Di tempat tinggalnya yang baru Hiroko mengenal
kehidupan malam di kotanya. Di sana juga Hiroko berkenalan dengan Soeprapto
mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Jepang, akan tetapi persahabatannya
dengan Soeprapto tidak berjalan lama, karena Soeprapto harus kembali ke
Indonesia.
Setelah lama Soeprapto menghilang, Hiroko mendapat surat undangan yang
isinya meminta Hiroko untuk berkunjung ke Indonesia. Bahkan dalam surat itu
Soeprapto secara langsung berniat untuk mempersunting Hiroko. Namun Hiroko
menolaknya secara halus. Hiroko tetap datang ke Indonesia memenuhi undangan
Soeprapto atas saran Nakajima-san.
Setelah berada di Indonesia, Hiroko diajak berkunjung ke beberapa tempat wisata.
Hiroko begitu mengagumi keramahan bangsa Indonesia dan keluhuran budayanya.
Yang paling membuat Hiroko tertarik adalah kerajinan kain batik khas Jogja.
Hirokopun berniat memperkenalkan corak kain batik tersebut ke masyarakat
Jepang.
Pergaulannya yang luas membuat wawasan pengetahuan Hiroko bertambah juga.
Hingga atas pertimbangan itu pula Nakajima-san mempercayakan Hiroko untuk
mengambil keputusan penting demi kemajuan toko tempat Hiroko bekerja.
Pada suatu kesempatan Hiroko berkenalan dengan Natsuko, seorang gadis
keluarga kaya. Natsuko yang pendiam begitu percaya pada Hiroko dan menganggap
Hiroko sebagai teman sejatinya.
Keinginan Hiroko untuk mendapatkan segala kesuksesan hidup, menjadikannya
menghalalkan segala cara asal tidak mencuri. Atas dasar itu pula Hiroko menjadi
penari kabaret di sebuah klub malam. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya, membuat
keberuntungan bagi Hiroko sehingga menjadi terkenal. Ia dibayar cukup mahal
untuk setiap pertunjukannya.
Dalam suatu pertunjukan tarinya Hiroko berkenalan dengan Yoshida, seorang
pengusaha kapal terkenal di kota Kobe. Yoshida begitu tergila-gila pada Hiroko
sehingga apapun kemauan Hiroko selalu dipenuhinya. Akan tetapi, hubungan mereka
terhalang karena ternyata Yoshida adalah suami dari Natsuko sahabat sejatinya.
Akhirnya, Yoshida hanya menjadikan Hiroko sebagai wanita simpanan saja tanpa
kejelasan status istri yang sah.
Di akhir cerita Hiroko menjadi pemilik dari bar Mahattan tempat dahulu ia
tinggal. Sebagian besar saham toko tempatnya bekerja pun berhasil dikuasainya.
Bahkan rumah Nakajima-san atasan Hiroko dahulu berhasil dimilikinya, Yoshida
yang membelikan rumah itu untuk bekal Hiroko di hari tua.
Atas jerih payahnya itu, kini Hiroko berhasil menjadi seorang yang sukses
di kota besar. Dia bisa menyekolahkan dua adik tirinya dan membiayai kehidupan
kedua orang tuanya di desa.
BukuTentangPerempuan “Natasha
Selainituadajugaperdagangan perempuan, para perempuan muda dan
cantik, dari negara reruntuhan Rusia, Balkan, dan Eropa Timur lainnya, diculik,
ditipu, disekap, lalu dijual ke berbagai penjuru dunia. Dulu, bisnis dagang
perempuan, melulu bersumber dari China, Taiwan, Thailand, atau Filipina. Kini
bergeser ke sana.
Lalu, ada fakta lain, yaitu modus yang benar-benar
baru. Seperti memanfaatkan jalur distribusi dan mata rantai internasional dalam
memasok para perempuan itu, yang mengikuti pola perdagangan narkotika dan
senjata api. Terakhir, karena adanya fakta bahwa Internet justru memperparah
kejahatan woman trafficking (perdagangan perempuan). Setelah era internet, maka
menjamur pula bisnis syahat pemuas hidung belang. Mulai dari pesan perempuan,
seks interaktif, wisata seks internasional, hingga pernikahan sementara.
Semua yang tersaji dalam buku ini
adalah memperlihatkan wajah buruk peradaban manusia, Jika mencerna buku ini
secara keseluruhan, tergambar seolah para perempuan bergerak dalam kereta
sejarah yang lamban. Dahulu, mereka dijadikan sesembahan untuk korban para
dewa. Lalu, dianggap sebagai pembawa keruntuhan bagi para raja. Pernah juga
kaum hawa dianggap sebagai penyebar penyakit, lalu diburu sebagai tukang tenung
atau sihir. Kini, dalam politik demokratis dan kebebasan informasi, mereka
menjadi komoditas. https://ninanurmilah.wordpress.com/category/e-book-gender/
Novel
“PerempuanBerkalungSorban”
Novel ini merupakan karya religious yang cerdas mendobrak
kebiasaan-kebiasaan yang membuat posisi wanita menjadi minor. Tokoh utama novel
ini bernama Annisa. Ia lahir dan tumbuh di kalangan pesantren yang memegang
adat keagamaan secara kokoh. Namun seiring perkembangannya, Annisa mulai
merasakan adanya perlakuan yang ganjil bagi dirinya. Ia merasa haknya dikecikan
jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Annisa tak diijinkan berlatih
menunggang kuda seperti saudara laki-lakinya, ia tak diijinkan berbicara dan
mengemukakan pendapatnya, ia harus diam saat di meja makan, ia tak boleh
terlambat bangun dan harus rajin serta masih banyak lagi perlakuan berbeda yang
diterima oleh Annisa dari orang tuanya sendiri yang merupakan Kiyai terhormat
di pesantren.
NovelAkuLupaBahwaAkuPerempuan”
Dalam novel ini, pembaca
diajak untuk menyelami kehidupan seorang perempuan yang berambisi besar menjadi
politisi sukses. Suad, tokah utama dalam cerita ini, mulai berkenalan dengan
dunia politik saat masih duduk di bangku SMA.
Suadadalahperempuan yang cerdas dan berambisi. Keaktifannya dalam politik
diimbangi dengan prestasi yang memuaskan disekolah, begitupun ketika menjadi mahasiswa. Menjadi orator, menghadiri
pertemuan-pertemuan politik, sebagai pelajar ia selalu duduk di peringkat
pertama. Ketika akhirnya Suad jatuh cinta pada pria bernama Abdul Hamid, dari
sinilah bermunculan peperangan antara ego politisi dan ego perempuannya. Kiprahnya dalam berbagai organisasi politik
maupun pergerakan perempuan menghanyutkanya dalam lingkar elit politik. Berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Semakin
dekat dunia politik dengannya, semakin ia jauh dari suaminya, perceraian pun
tak terelakkan. Faizah anak semata wayangnya, memanggilnya dengan Suad. Padahal
dalam hatinya ia begitu merindukan sebutan ibu untuk dirinya.
Ihsan Abdul Qudus,
penulis novel ini,sangatpandai menuturkan kisah
pergolakan kehidupan Suad. Ia dengan lugas menceritakan seorang perempuan yang
memperjuangkan kesetaraan gender. Bagaimana Suad
menghadapi keluarganya, saat dimana Suad berusaha menjaga eksistensi karir
politiknya tanpa merusak hubungan dengan suaminya, utamanya kala Suad
menyerukan pada rekan-rekannya, bahwa ia adalah wanita, dan itu bukan
penghalang baginya untuk memantapkan langkah di dunia politik.
Lalu Ihsan menghadirkan
pergolakan batin Suad sebagai pembanding. Ia mengisahkan bahwa bagaimanapun,
Suad tetap membutuhkan kehadiran lelaki dalam hidupnya. Meski pada akhirnya ia
selalu menuai perceraian. Kemudian Ia bertutur tentang Suad yang begitu
terpukul mengetahui anaknya lebih dekat dengan ibu tirinya, Samirah. Faizah
lebih dekat dan terbuka dengan Samirah, daripada dengan dirinya, ibu
kandungnya.
Novel “Lasmi”
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1100737671979324650#editor/target=post;postID=4943475393957129562;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=17;src=link

Lasmi adalah perempuan
yang ingin masyarakat di sekitar tempat tinggalnya bisa maju lewat pendidikan.
Meski Indonesia sudah lama merdeka, sudah hampir 20 tahun tapi kemajuan
belumlah merata sampai ke desanya di daerah Jawa Tengah. Berawal dari sekedar
mengajar Mak Paini, tetangganya untuk baca-tulis, akhirnya banyak warga desa
yang belajar membaca di rumahnya.
Pemikirannya yang maju
dan terbuka membuatnya dikenal dan bertemu dengan banyak orang yang berpikiran
sama. Itulah yang menyebabkan Lasmi bertemu dengan anggota aktif Gerakan Wanita
Indonesia (Gerwani) dan kemudian terlibat aktif di dalamnya. Pada masa itu, ada
kesamaan apa yang diinginkan Lasmi dengan kegiatan yang dilakukan Gerwani.
Aktivis-aktivis Gerwani giat memberantas buta huruf, memberikan perempuan
berbagai kursus rumah tangga seperti memasak dan menjahit, menentang kenaikan
harga-harga, serta menuntut upah buruh perempuan agar setara dengan laki-laki. Yang
paling menonjol adalah perjuangan Gerwani yang mempersoalkan soal UU Pernikahan
yang lebih banyak merugikan posisi perempuan di dalam rumah tangga, terutama
mereka menginginkan dimasukkannya anti-poligami dalam UU tersebut.
Maka perubahan demi
perubahan terjadi pada kehidupan Lasmi. Lasmi terpilih menjadi ketua Gerwani di
desanya. TK Tunas berganti nama menjadi TK Melati, rumahnya menjadi kantor
cabang Gerwani dan Barisan Tani Indonesia (BTI) di desanya. Permintaan Sutikno sang suamikepada Lasmi agar bisa membagi waktu,
karena mereka sudah memiliki Gong, anak yang menggemaskan, buah perkawinan
mereka.
Prahara terjadi di
tahun 1965, imbasnya meluas kemana-mana. Termasuk ke diri Lasmi dan Sutikno.
Sweeping dan pembunuhan sadis menjadi berita sehari-hari. Sasarannya adalah
PKI, PGRI Non-vaksentral, SOBSI, BTI, IPPI, CGMI, juga Pemuda Rakyat dan
Gerwani. Maka mulailah episode pelarian Lasmi dan keluarganya, yang membawa
sengsara dan kesedihan. Ujungnya sudah bisa ditebak : tragis.
TariSaman “KreasiPerempuan Aceh”

Tari saman adalah suatu tarian dimana perempuan muda duduk bersimpuh. Mereka menyuguhkan gerak tubuh yang
membentuk tarian. Berawal dengan gerakan-gerakan ringan dan pelan, biasanya
lebih banyak gerakan tangan dan kepala, sampai kemudian menjadi lebih cepat. Di
tengah tarian tersebut, terkadang mereka berhenti mendadak seketika di saat
orang-orang yang menonton terhanyut dengan gerakan-gerakan yang cenderung
mistis.
Selain gerakan-gerakan
tersebut, tak ketinggalan syair-syair bernuansa keislaman menyertai semua gerak
tari dimaksud. Syair yang di dalamnya berisi berbagai macam nasehat, petuah,
sampai dengan pesan-pesan bernada dakwah yang menjadi kekhasan kesenian Aceh.
Syair tersebut dilantunkan dalam bentuk nyanyian oleh seorang perempuan yang
biasanya lebih tua, disebut dengan Cahi.
Nah, tarian tersebut
tidak sekadar menjadi hiburan semata. Tetapi ia juga menjadi media yang memberi
ruang pada perempuan Aceh untuk menyuarakan aspirasinya, ekspresi seninya, dan
kemampuannya sebagai manusia yang diberikan rasa dan karsa oleh Yang Mahakuasa.
Lewat kesenian ini juga, perempuan leluasa menunjukkan
potensi yang mereka miliki dalam hal berkesenian. Di samping, ini juga menjadi
cara masyarakat Aceh dalam menunjukkan apresiasi atau penghargaan mereka
terhadap perempuan.
Tokoh Pewayangan
Perempuan
Dewi Sukesi adalah putri raja rasaksa Sumali di Alengka
dengan Dewi Danuwati, Danuwati putri raja Mathili. Walaupunia berujud rasaksa namun Prabu Sumali berwatak pandita
keturunan batara Brama. Putrinyapun cantik dan berbudi luhur, tidak ada yang
mengiraia putri seorang rasaksa. Oleh Sindusastra digambarkan bahwa kecantikan dewi Sukesi mengalahkan keindahan bulan, tidak
ada yang mengira kalau putrirasaksa. Seakan-akan bidadari surga, putriraja
Alengka yang betul-betul unggul di dunia.Dalam percakapan antara Resi Wisrawa
dengan Prabu Sumali pada waktu melamar Dewi Sukesi, diceritakan oleh Sumali
dalam Serat Arjunasasrabahu sebagai berikut :
Seandainya
dia lahir sebagai pria, putramu Sukesi itu miripWisrawana. Ia sangat cerdas,
tajam perasaannya, pandai danLuwes berbahasa (berbicara), pandai tentang segala
ilmu. Sayang lahir sebagai wanita, sejak kecil senang berolah ilmu.
Ketikaia dewasa, menjadi buah bibir dinegara lain, banyak raja datang untukmeminang,
tetapisemuanya ditolak. Ia bersumpah, hanya maumenikah
dengan Satriya yang luhur atau raja yang dapat menjelaskanmakna sastra cetha
arjendra hayuning bumi, bahkan sumpahnya yang disaksikan oleh para maharesi,
dijadikan sayembara, bila tidak mendapatkan raja yang unggul, yang dapat
menjelaskan ilmu luhur tersebut, ia akan wadat, tidak menikah.
Novel “SamandanFear of Flying”

Novel Saman maupun Fear
of Flying adalah dua novel yang menganut aliran feminisme yang lebih
menonjolkan wanita dalam ceritanya, sehingga banyak kritik terhadap penulisnya
dibanding pada karyanya karena dengan bahasa yang menjorok kedalam kaitan seks,
sehingga terdapat konflik yang timbul di masyarakat apalagi penulis adalah
seorang perempuan, yang tidak pantas untuk mempublikasikan karya yang memalukan
itu. Sehingga mereka menghadapi masalah psikologis yang rumit, perempuan yang
menulis dianggap mengingkari tanggung jawabnya dalam menjalankan kewajiban di
rumah tangga. Namun Ayu Utami maupun Erica Jong tetap pada pendiriannya sebagai
penulis yang profesional dan memberanikan diri untuk menyebarluaskan kayanya
menghadapi tantangan dari masyarakat.
Novel Saman dan Fear of Flying adalah suatu karya yang
diminati oleh masyarakat, terbukti dalam pemasarannya yang dicetak berulang
kali. Namun karya ini juga memicu berbagai macam kritik dari masyarakat maupun
kritikus sastra sendiri karena tidak pantasnya seorang perempuan mengangkat
masalah seks dalam karya mereka, karena dianggap merendahkan diri dan menjadi
aib bagi perempuan. Rahman juga menyebutkan para kritikus sastra yang setuju
dengan adanya seks dalam karya sasta maupun yang tidak setuju seperti Medy
Lukito, Sunaryo Basuki Ks., Aquarini P. Prabasmoro, Goenawan Mohamad, hingga
Millicent Dillon.
Novel “Larung”
Sumber foto/http://idliterature.files.wordpress.com
|
Novel "Perempuan Bernama Arjuna"
sinopsis:
Nama Arjuna bukanlah nama yang biasa untuk seorang perempuan. Mudah diterka pemerian namanya tergolong “langka” untuk seorang perempuan. Arjuna adalah sebuah nama dari kesalahan dalam taksiran keluarganya. Ini dapat dilihat, Awalnya, ini kekeliruan kakek dari pihak ibu, orang Jawa asli Semarang, yang mengharapkan dia lahir sebagai anak laki-laki dan untuk itu ketika usia kandungan 7 bulan dalam rahim ibu, dibuat upacara khusus dengan bubur merah-putih bagi Arjuna disertai baca-baca Weda Mantra, pusaka pustaka warisan Sunan Kalijaga dari awal syiar Islam di tanah Jawa.
Tapi, dengan “ketidaksengajaan” pada pemberian nama, Arjuna berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain sebaya, ia mempelajari filsafat dengan tekun. Arjuna menjadi mahasiswa filsafat di sebuah perguruan tinggi di Belanda. Ditemani Amin al-Ma’luf, ia mengisahkan dirinya yang menyenangi filsafat dari klasik hingga modern, dari teologi ke kosmologi.
Dalam kesehariannya ia tidak luput dari pemikiran-pemikiran filsafat yang selalu mempertanyakan muasal alam, Tuhan dan manusia. Karena ia kuliah di jurusan filsafat, mau tidak mau ia harus menyoalkan pemikiran dan mengetahui setiap filsuf dengan pola pikirnya.
Terkadang ia gemar merenung dan berdiskusi. Ketika di kelas, dosennya yang bernama Bloembergen sering mengajak diskusi tentang filsafat klasik dengan Arjuna. Selain berdiskusi tentang filsafat modern bersama Amin al-Ma’luf, teman satu kelasnya di jurusan filsafat. Memang, tidak seperti umumnya perempuan, Arjuna memilih filsafat untuk belajar tentang kehidupan.
Kodrat seorang perempuan tak dapat dikesampingan oleh Arjuna. Seorang perempuan segarang apapun “nalar”; Arjuna memeiliki pemikiran yang liar dalam filsafat, terlihat dari renungan atau komentar-komentar selama kuliah, tapi Arjuna itu tetaplah seorang perempuan.
Peristiwa menarik dialami Arjuna ketika merasakan jatuh cinta kepada pengajarnya, Profesor van Damme. Arjuna terpukau dengan gaya tutur Van Damme. Selama kuliah filsafat, Arjuna mempelajari filsafat dan teologi dari Van Damme. Tidak disangka, dari pengajaran filsafat ke pertanyaan dan berakhir dengan dialog, mereka berdua akhirnya saling suka. Alurnya berjalan sederhana saja, seringnya mereka bertemu di kampus dan membuat mereka melanjutkan pertemuan di rumah kontrakan Arjuna. Akhirnya, saling suka-menyukai pun tak dapat dihindari.
Namun, Arjuna juga sebagai orang timur–keturunan Cina-Jawa–akhirnya tidak melupakan tradisi sebagai seorang perempuan ke-timur-an. Akhirnya, ia menikah dengan Van Damme dan berbulan madu ke Bandung.
Sumber:
Remy Sylado, Perempuan Bernama Arjuna : Filsafat Dalam Fiksi, Nuansa Cendekia, Indonesia, 2013.




0 komentar:
Posting Komentar