Perempuan Nias
Dalam
video ini mengisahkan kekerasan dalam rumah tangga, seorang perempuan nias yang
hidup dalam budaya patriarki, ia selalu diperlakukan dengan kasar oleh
suaminya, tidak segan-segan suaminya menampar dan memukul istri dihadapan anak-anaknya
dan istri tersebut tidak mampu melakukan perlawanan apapun. Namun kisah dalam
video ini lebih terlihat menarik lagi dengan adanya perlawanan dari seorang
anak perempuan yang menolak untuk dinikahkan pada usia dini, silahkan simak
ceritanya…
Tutur Perubahan
Video
ini menggambarkan kehidupan tradisi flores timur (NTT), disana kehidupan
ekonomi masyarakat menuju kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, dimana
kemiskinan membuat laki-laki maupun perempuan harus bekerja keras untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, namun tetap saja dalam adat istiadat,
masyarakat dan system pemerintahan, perempuan tidak mendapat hak suara dalam
mengambil keputusan dalam keluarga, padahal jika dilihat lebih dalam, pekerjaan
perempuan lebih berat daripada laki-laki, simak ceritanya disini…
Wanita di Balik Merah Putih (R.A. Kartini, Cut Nyak Dhien, Fatmawati)
Kesetaraan Gender (equality)
Video ini memperlihatkan kesetaraan gender
dimana perempuan yang di klaim hanya bisa bekerja di dapur, sumur dan kasur
tetapi nyatanya mereka mampu melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh
kaum laki-laki, seperti menjadi juru parkir perempuan, menjadi kenek kopaja,
menjadi supir bus dan sebagainya
Hijabers yang Tersakiti karena Poligami
Video
ini merupakan curahan kesedihan mba Ana Abdul Hamid yang dipoligami oleh
suaminya. Ia sangat sedih dan protes terhadap perlakuan suaminya yang membagi
cintanya dengan perempuan lain, ia merasa sangat tersakiti dan terpaksa untuk
berbagi suami. Ia berusaha bertahan selama lima tahun, namun akhirnya ia pun
menyerah.
Dengar Kesaksian Kupang, NTT- 'Guru Anggota Gerwani'
[Democracy Project] Yuniyanti Chuzaifah tentang Kontribusi Gerakan Perempuan Marginal
Dalam
video ini Yuniyanti Chuzaifah (Ketua Komnas Perempuan) memaparkan bagaimana
konstribusi gerakan perempuan yang termarjinalkan dalam menshapping Indonesia
dan menshapping cara beragama, hal ini menurutnya sangat menarik karena selama
ini kita berasmsi bahwa perempuan tidak mempunyai konstribusi, tetapi melalui
fenomena migrasi, telah banyak merubah paradigma dan fenomena lain. Misalnya
ketika istri menjadi TKW untuk mencari nafkah, tetapi dalam tradisi agama bahwa
kepala keluarga adalah laki-laki. Lalu bagaimana agama menjawab fenomena
tersebut ketika sudah banyak terjadi pergeseran perempuan, banyak perempuan
yang mencari nafkah, apakah bisa dikatakan sebagai kepala keluarga?? Untuk
lebih jelasnya silahkan tonton video berikut……..
0 komentar:
Posting Komentar