Oleh: Mei
Marlina (1113032100054)
Relasi Gender Dalam Agama Hindu
A. Ketidaksetaraan Gender dalam tradisi dan teks-teks
Hindu
“Prajanartha sriyah srstah
Samtanartham ca manawah Tasmat sadharano dharmah Crutau patnya sahaditah”.
Artinya: Untuk menjadi ibu wanita
diciptakan dan untuk menjadi ayah laki-laki di ciptakan oleh upacara
keagamaan saat perkawinan, karena itu ditetapkan di dalam weda untuk dilakukan
oleh suami bersama dengan istrinya. [Manawa Dharmasastra IX. 96.]
“Kamamamaranattistheg Grhe karyantum atyapi,
Nacaivainam prayacchettu Guna hinaya karhicit”.
Artinya: Tetapi walaupun wanita
itu sudah cukup umur untuk kawin, hendaknya ia ditahan saja di rumah oleh orang
tuanya sampai mati daripada dia di kawinkan dengan laki-laki yang tidak
memiliki sifat baik.[Manawa dharma sastra IX. 89]
“Tatha nityam yateyatam Stripumsau tu kritakriyau
Yatha nabhicaretam tau Wiyuktawitaretaram”.
Artinya: Hendaknya Laki-laki dan
perempuan yang terikat oleh perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu –
jemunya supaya mereka tidak bercerai, dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan satu
dengan yang lainnya.[Manawa dharma sastra IX. 102]
Dengan menegaskan bahwa perbedaan
perlakuan oleh siapa pun dan kepada siapapun menjadi sah ketika dogma
dari hukum “Adat” lebih di tekankan dibanding hukum agama itu sendiri. Ini
menempatkan masyarakat secara umum pada kondisi yang tidak memiliki kemampuan
untuk memperoleh haknya secara wajar dan sempurna. Akibatnya apa yang wajib
dilakukan menurut hukum agama pun menjadi terabaikan oleh kuatnya belenggu
adat.
“Tasmindece ya acarah Paramparyakrama gatah
Warnanam santaralanam Sa sadacara ucyate”
Artinya: Adat istiadat yang
diturunkan dalam urutan yang wajar dan seimbang dari sejak dahulu kala
diantara empat warna utama dalam masyarakat serta suku – suku campuran yang
ada, dinamai adat istiadat orang-orang bijaksana.[Manawa dharma sastra II. 18.]
“Panam durjana samsargah Patya ca wirako’tanam,
Swapno,nya geha wasacca Narisamdursanani sat”.
Artinya: Meminum minuman keras,
bergaul dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami tidur pada jam-jam tidak
layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam
sebab jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [ Manawa Dharma
sastra IX.
Sebagai etika moral dijelaskan
dalam ayat ini yang membatasi prilaku seorang perempuan dalam menjaga
kehormatannya dalam ruang sosial masyarakat bukan aturan yang bersifat memaksa
yang mau tidak mau harus ditaati oleh seorang perempuan. Tetapi ayat diatas
memberikan ruang untuk memilih dalam tatanan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya untuk menjadi terhormat dan mulia atau perempuan yang jatuh,
terhina dan hancur.Artinya bahwa peran laki-laki dalam menjaga moral perempuan
menurut ayat ini bersifat pasif yang mana kewenangan dalam menempatkan jati
diri seorang perempuan ada pada dirinya sendiri. Seperti yang telah dijelaskan
diatas bahwa paham kesetaraan dan keadilan sesungguhnya telah menjadi budaya
Hindu sejak lahirnya.
B.
Relasi Kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi
Mitologi
Hindu umurnya ribuan tahun, setua umur agama Hindu. Tahun kemunculan mitologi
ini tidak pasti dan sukar diperkirakan secara tepat. Mitologi ini diyakini
muncul bersamaan ketika Weda mulai berkembang di anak benua India. Pada saat
itu lagu-lagu pujian pada Rig Weda (Weda pertama) mulai dinyanyikan. Lagu
tersebut memuji-muji alam dan unsur-unsurnya, seperti: udara, air, petir,
matahari, api, dan sebagainya. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk Dewa-Dewa
yang memiliki gelar masing-masing sesuai dengan unsur alam, seperti Bayu,
Baruna, Indra, Surya, Agni, dan sebagainya. Dewa-Dewi inilah yang akan menjadi
bagian dari mitologi Hindu.
Menurut
para sarjana masa kini, pada zaman Weda, Dewa-Dewi dalam mitologi Hindu masih
dikonsepkan. Pada zaman ini, pemujaan dan mitologi mengenai Dewa-Dewa merupakan
pengetahuan akan ilmu ketuhanan. Setelah zaman Weda, disusul oleh kebudayaan
zaman Brahmana. Pada zaman ini, ilmu Weda dikembangkan dengan pengetahuan akan
upacara keagamaan. Zaman ini ditandai dengan cenderungnya pelaksanaan upacara
daripada pengajaran filsafat. Pada zaman ini mulai disusun kitab-kitab yang
menceritakan tentang mitologi, legenda, kosmologi, dan sebagainya. Pada zaman
Weda umat Hindu memohon anugerah dari para Dewa, sedangkan pada zaman Brahmana
para Dewa memiliki kedudukan yang penting terutama dalam sistem
upacara.Reruntuhan jembatan kuno antara India dan Sri Lanka, seperti terkisah
dalam wiracarita Ramayana. Kini berada di dasar laut.
Zaman
Purana merupakan perkembangan dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa
ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa-Dewi tersebut
memiliki karakter khusus dan dilukiskan secara detail. Pada zaman ini pula,
terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabharata, yang dipercaya sebagai kejadian
bersejarah. Pada epos Ramayana, dikisahkan bahwa Sri Rama dan bala tentaranya
membangun sebuah jembatan dari India menuju Alengka (kini Sri Lanka).
Reruntuhan jembatan kuno yang menghubungkan antara India dan Sri Lanka yang
kini terpendam di dasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti sejarahnya.
Bukti arkeologi sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut
merupakan bagian dari sejarah atau mitologi belaka.
Mitologi
Hindu tak lepas dari cerita para makhluk supranatural, seperti misalnya: Dewa,
Asura, Raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Makhluk supernatural
yang paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan Raksasa. Dalam mitologi Hindu
dikenal adanya Dewa-Dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi
dari alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan
tentang dewa-dewi dalam agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada
masa agama Hindu baru berkembang. Dewa-dewi banyak disebut-sebut dalam Weda
sebagai makhluk di bawah derajat Tuhan. Pada zaman Weda, dewa-dewi banyak
dipuja sebagai pelindung diri manusia.
Para Dewa
dan Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya: Dewa Siwa
di gunung Kailasha, Dewa Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan
sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaib yang dimilikinya, para dewa dan dewi
dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan
keinginannya.
Dalam
kebudayaan India, penggambaran terhadap para dewa dan dewi dituangkan dalam
bentuk pahatan, ukiran, dan lukisan sesuai dengan atributnya. Atribut yang
dimiliki oleh para Dewa disesuaikan dengan karakternya, misalnya: Dewa Agni
berambut api, Dewa Wisnu bertangan empat dan memegang cakram, Dewa Brahma
berwajah empat, dan sebagainya.
C.
Gender, sistem kasta dan masyarakat yang seksis
Dalam agama Hindu terdapat konsep “sati” sebagai keutamaan istri yang mengorbankan dirinya
untuk terjun ke dalam panasnya api yang membakar suaminya. Konsep sati ini
menggambarkan bahwa dalam ajaran Hindu, status “janda” itu tak memberikan
keberuntungan terhadap seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena
alasan apapun, dan merupakan sebuah perwujudan dari kesetiaan seorang istri
terhadap suami, tapi lambat laun tradisi ini dilarang oleh negara-negara.
Wanita sebagai istri bukanlah
pendamping suami semata, tetapi hidup bersama untuk menyukseskan swadharma
grhasta asrama, membina putra menjadi suputra dan bersama-sama untuk mengabdi
pada jagat. Sesungguhnya wanita menurut pandangan Hindu
sangat mulia, sejajar dengan laki-laki. Cuma dalam beberapa ketentuan
adat-istiadat sering dijumpai wanita menjadi penggoda laki-laki, atau hanya
sebagai pelaksana kebijakan kaum laki-laki. Perbedaan laki-laki dan perempuan
hanyalah swadharma-nya.
Dengan
adanya swadharma, kehidupan makhluk di alam semesta ini dapat mencerminkan
aktivitas yang dinamis, seimbang, selaras, dan serasi. Kalau swadharma ini
diubah oleh manusia sendiri, hanya atas dasar kemajuan zaman dan teknologi, itu
sama dengan mengubah kesadaran, keseimbangan dan keserasian alam terhadap
isinya. Perubahan kesadaran bisa timbul disharmoni dan akan berimplikasi
negatif terhadap akhlak, moral, budi dan perilaku manusia sehingga kehancuran
tak terhindarkan hal ini yang disebut kali yuga.
Ada 4
kasta di agama hindu
1. Kasta bhramana merupakan
kasta tertinggi ,bertugas menjalankan upacara-upacara keagamaan .Adapun yg
termasuk kasta ini adalah para brahmana .
2. Kasta ksatria bertugas
menjalankan pemerintaha yg termasuk kasta ini adalah para raja ,bang sawan
,&prajurit
3. Kasta waisya kasta dari
golongan Pekerja ,seperti para petani & pedagang
4. Kasta sudra , merupakan
kasta kasta yg paling rendah seperti Rakyat biasa (pekerja kasar).
Selanjutnya,sebuah
sistem kasta yang dianut oleh pemeluk agama Hindu, tapi masih saja mengatur
hubungan perkawinan dengan interpretasi yang timpang.
D.
Feminis Hindu: perjuangan melawan ketidaksetaraan
Dalam
Hindu, wanita selalu diberikan kedudukan yang terhormat sejajar dengan
laki-laki. Dimana saja wanita dihormati di sana. Keharmonisan akan tercipta dan
sebaliknya, dimana wanitanya tidak dihormati cepat atau lambat akan terjadi
prahara di dalam rumah tangga.
Wanita
dikatakan sebagai lambang keutamaan cita-cita yang luhur dan utama dan sebagai
barometer maju mundurnya rumah tangga. Jadilah wanita yang bersifat mayurastri
atau bersifat seperti burung merak, yang mempunyai wibawa dan kharismatik
sebagai seorang wanita dan mampu memberikan pengayoman dan kesejukan
dalam rumah tangga. Seorang ibu telah berkorban lahir dan batin untuk kepentingan
anak dan keluarga. Seorang ibu sebagai peredam berbagai gejolak
dalam rumah tangga, sebagai motivasi menerima kelebihan dan kekurangan dalam
keluarga.
Hari Ibu Di sinilah peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sangat dibutuhkan
oleh anak-anaknya, dan anggota keluarga yang lainnya. Dalam keluarga yang
harmonis, tiap hari anggota keluarga diajarkan saling mengeluarkan pemikiran
yang positif, anggota diajak sembahyang bersama dan diisi juga dengan berbagai
nasihat.
Seorang
ibu tidak saja dihormati pada peringatan hari ibu, namun kita hedaknya mampu
menghormati dan menempatkan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Seorang ibu
mempunyai swadharma yang begitu komplek dalam kehidupan ini. Dari mengandung
anak, melahirkan, mendidik dan memberikan kehidupan sehingga anaknya
berhasil menjadi anak yang suputra, mendampingi suami dalam keadaan
apapun, mengatur rumah tangga dan sebagainya. Di samping peranan pokoknya
sebagai ibu rumah tangga (Dharmapatni) yang berkewajiban mendampingi suami,
mengasuh anak-anak dan menjalankan peran dan fungsinya sebagai ibu rumah
tangga.
Sesungguhnya
kita sebagai anak mempunyai utang yang sangat besar, kepada
orangtua yaitu Sarira krt (yang menyebabkan badan ini ada ), annadatta (
yang memberi makan dan minum selama kehidupan) dan pranadatta (yang memberi
hidup serta mengasuhnya). Tidak ada kasih sayang yang melebihi kasih ibu. Dari
ibulah mengalir kasih pertama yang meresapi tubuh kita. Kasih sayang ibu kepada
anaknya sama rata ,baik anaknya yang mampu maupun kepada anaknya yang tidak
mampu.
Kaum
wanita telah mampu berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof,
pujangga, kesatria , sebagai soko guru kehidupan masyarakat dan negara,
menentukan tegaknya hukum kebenaran (dharma) dan adat istiadat (Dresta).Wanita
sangat menentukan maju mundurnya kehidupan keluarga, masyarakat dan negara
bahkan sering dijadikan cermin perkembangan keluarga, masyarakat dan
negara. Dengan demikian seorang ibu hendaknya memperlihatkan wajah yang
berseri-seri sehingga keharmonisan dan kebahagian dalam keluarga menjadi
terwujud.
Relasi Gender Dalam Agama Buddha
A. Status Perempuan dalam ajaran Agama Buddha
Dalam tradisi Buddhisme, sejak awal memberikan tempat kepada perempuan
egaliter dengan laki-laki. Hal ini misalnya dapat dilihat betapa perempuan dan
laki-laki memiliki hak yang sama dalam menempuh jalan spiritual untuk mencapai
Nirwana. Hal ini termaktub dalam teks: “Siapapun yang memiliki kendaraan
seperti itu, baik perempuan maupun laki-laki, sesungguhnya dengan mempergunakan
kendaraan tadi, ia akan mencapai Nirwana”. Buddhisme juga memiliki ordo rahib
perempuan, dia dapat mencapai Nirwana. Karenanya, rintangan utama untuk
mencapai pencerahan bukanlah perempuan, tetapi sikap mental. Namun demikian,
dalam aliran Buddha Mahayana, perempuan diposisikan lebih rendah daripada
laki-laki.
B. Peran perempuan dalam sejarah perkembangan Agama
Buddha.
Dalam
kehidupan bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran laki-laki maupun
perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki,
perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang
Budha.
Mengacu
pada perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan kemitrasejajaran
perempuan telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang Budha. Hal ini
dapat dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah perempuan dan
diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam perkembangan agama
Budha
Kesetaraan
gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam
rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah
tangga. Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang
muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya
masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama
budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai
gender.
Dalam
Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa tertinggal
memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang agung, karenanya
agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi kehidupannya, maka keduanya
memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru dari sinilah muncul
keseimbangan.
C. Reinterpretasi dan adaptasi peran-peran gender
tradisional
dari
tradisi Mahayana. Dia melihat bahwa ajaran-ajaran Budha, meskipun itu terdapat
dalam teks-teks Tripitaka yang bersifat seksis, merupakan pengaruh dari
Konfusianisme, sikap anti feminis dari Hindu (Brahmanisme)dan pengaruh dari
agama-agama lokal.
Ajaran
Budha yang paling dasar, yaitu egalitarianisme, ternyata justru menjebak.
Karena agam Budha yang dipercaya tidak seksis, ternyata ada teks-teks ajarannya
yang bersifat seksis. Sehingga perlu adanya reinterpretasi dan kalau perlu,
reformasi.
0 komentar:
Posting Komentar