Kamis, 03 Desember 2015

Tagged Under:

responding Paper "Relasi Gender Dalam Agama Hindu dan Budha"

By: Unknown On: 02.32
  • Share The Gag


  •  Oleh: Mei Marlina (1113032100054)
     
    Relasi Gender Dalam Agama Hindu
    A.    Ketidaksetaraan Gender dalam tradisi dan teks-teks Hindu
    Prajanartha sriyah srstah Samtanartham ca manawah Tasmat sadharano dharmah Crutau patnya sahaditah”
    Artinya: Untuk menjadi ibu wanita diciptakan  dan untuk menjadi ayah laki-laki di ciptakan oleh upacara keagamaan saat perkawinan, karena itu ditetapkan di dalam weda untuk dilakukan oleh suami bersama dengan istrinya. [Manawa Dharmasastra IX. 96.] 
    “Kamamamaranattistheg Grhe karyantum atyapi, Nacaivainam prayacchettu Guna hinaya karhicit”. 
    Artinya: Tetapi walaupun wanita itu sudah cukup umur untuk kawin, hendaknya ia ditahan saja di rumah oleh orang tuanya sampai mati daripada dia di kawinkan dengan laki-laki yang tidak memiliki sifat baik.[Manawa dharma sastra IX. 89] 
    “Tatha nityam yateyatam Stripumsau tu kritakriyau Yatha nabhicaretam tau Wiyuktawitaretaram”. 
    Artinya: Hendaknya Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu – jemunya supaya mereka tidak bercerai, dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan satu dengan yang lainnya.[Manawa dharma sastra IX. 102] 
    Dengan menegaskan bahwa perbedaan perlakuan oleh siapa pun dan kepada siapapun menjadi sah  ketika dogma dari hukum “Adat” lebih di tekankan dibanding hukum agama itu sendiri. Ini menempatkan masyarakat secara umum pada kondisi yang tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh haknya secara wajar dan sempurna. Akibatnya apa yang wajib dilakukan menurut hukum agama pun menjadi terabaikan oleh kuatnya belenggu adat. 
    “Tasmindece ya acarah Paramparyakrama gatah Warnanam santaralanam Sa sadacara ucyate” 
    Artinya: Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dan seimbang  dari sejak dahulu kala diantara empat warna utama dalam masyarakat serta suku – suku campuran yang ada, dinamai adat istiadat orang-orang bijaksana.[Manawa dharma sastra II. 18.]
    “Panam durjana samsargah Patya ca wirako’tanam, Swapno,nya geha wasacca Narisamdursanani sat”.  
    Artinya: Meminum minuman keras, bergaul dengan orang-orang jahat, berpisah dari suami tidur pada jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam sebab jatuhnya seorang wanita yang menyebabkan kehancuran. [ Manawa Dharma sastra IX.
    Sebagai etika moral dijelaskan dalam ayat ini yang membatasi prilaku seorang perempuan dalam menjaga kehormatannya dalam ruang sosial masyarakat bukan aturan yang bersifat memaksa yang mau tidak mau harus ditaati oleh seorang perempuan. Tetapi ayat diatas memberikan ruang untuk memilih dalam tatanan kehidupan masyarakat dan lingkungannya untuk menjadi terhormat dan mulia atau perempuan yang jatuh, terhina dan hancur.Artinya bahwa peran laki-laki dalam menjaga moral perempuan menurut ayat ini bersifat pasif yang mana kewenangan dalam menempatkan jati diri seorang perempuan ada pada dirinya sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa paham kesetaraan dan keadilan sesungguhnya telah menjadi budaya Hindu sejak lahirnya.

    B.     Relasi Kuasa Dewa-Dewa dan Dewi-Dewi
    Mitologi Hindu umurnya ribuan tahun, setua umur agama Hindu. Tahun kemunculan mitologi ini tidak pasti dan sukar diperkirakan secara tepat. Mitologi ini diyakini muncul bersamaan ketika Weda mulai berkembang di anak benua India. Pada saat itu lagu-lagu pujian pada Rig Weda (Weda pertama) mulai dinyanyikan. Lagu tersebut memuji-muji alam dan unsur-unsurnya, seperti: udara, air, petir, matahari, api, dan sebagainya. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk Dewa-Dewa yang memiliki gelar masing-masing sesuai dengan unsur alam, seperti Bayu, Baruna, Indra, Surya, Agni, dan sebagainya. Dewa-Dewi inilah yang akan menjadi bagian dari mitologi Hindu.
    Menurut para sarjana masa kini, pada zaman Weda, Dewa-Dewi dalam mitologi Hindu masih dikonsepkan. Pada zaman ini, pemujaan dan mitologi mengenai Dewa-Dewa merupakan pengetahuan akan ilmu ketuhanan. Setelah zaman Weda, disusul oleh kebudayaan zaman Brahmana. Pada zaman ini, ilmu Weda dikembangkan dengan pengetahuan akan upacara keagamaan. Zaman ini ditandai dengan cenderungnya pelaksanaan upacara daripada pengajaran filsafat. Pada zaman ini mulai disusun kitab-kitab yang menceritakan tentang mitologi, legenda, kosmologi, dan sebagainya. Pada zaman Weda umat Hindu memohon anugerah dari para Dewa, sedangkan pada zaman Brahmana para Dewa memiliki kedudukan yang penting terutama dalam sistem upacara.Reruntuhan jembatan kuno antara India dan Sri Lanka, seperti terkisah dalam wiracarita Ramayana. Kini berada di dasar laut.
    Zaman Purana merupakan perkembangan dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa-Dewi tersebut memiliki karakter khusus dan dilukiskan secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabharata, yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Pada epos Ramayana, dikisahkan bahwa Sri Rama dan bala tentaranya membangun sebuah jembatan dari India menuju Alengka (kini Sri Lanka). Reruntuhan jembatan kuno yang menghubungkan antara India dan Sri Lanka yang kini terpendam di dasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti sejarahnya. Bukti arkeologi sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah atau mitologi belaka.
    Mitologi Hindu tak lepas dari cerita para makhluk supranatural, seperti misalnya: Dewa, Asura, Raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Makhluk supernatural yang paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan Raksasa. Dalam mitologi Hindu dikenal adanya Dewa-Dewi, yang mana Dewa-Dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan Tuhan. Kepercayaan tentang dewa-dewi dalam agama Hindu sudah muncul sejak zaman Weda, yaitu pada masa agama Hindu baru berkembang. Dewa-dewi banyak disebut-sebut dalam Weda sebagai makhluk di bawah derajat Tuhan. Pada zaman Weda, dewa-dewi banyak dipuja sebagai pelindung diri manusia.
    Para Dewa dan Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya: Dewa Siwa di gunung Kailasha, Dewa Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaib yang dimilikinya, para dewa dan dewi dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginannya.
    Dalam kebudayaan India, penggambaran terhadap para dewa dan dewi dituangkan dalam bentuk pahatan, ukiran, dan lukisan sesuai dengan atributnya. Atribut yang dimiliki oleh para Dewa disesuaikan dengan karakternya, misalnya: Dewa Agni berambut api, Dewa Wisnu bertangan empat dan memegang cakram, Dewa Brahma berwajah empat, dan sebagainya.

    C.     Gender, sistem kasta dan masyarakat yang seksis
    Dalam agama Hindu terdapat konsep “sati” sebagai keutamaan istri yang mengorbankan dirinya untuk terjun ke dalam panasnya api yang membakar suaminya. Konsep sati ini menggambarkan bahwa dalam ajaran Hindu, status “janda” itu tak memberikan keberuntungan terhadap seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya karena alasan apapun, dan merupakan sebuah perwujudan dari kesetiaan seorang istri terhadap suami, tapi lambat laun tradisi ini dilarang oleh negara-negara.
    Wanita sebagai istri bukanlah pendamping suami semata, tetapi hidup bersama untuk menyukseskan swadharma grhasta asrama, membina putra menjadi suputra dan bersama-sama untuk mengabdi pada jagat. Sesungguhnya wanita menurut pandangan Hindu sangat mulia, sejajar dengan laki-laki. Cuma dalam beberapa ketentuan adat-istiadat sering dijumpai wanita menjadi penggoda laki-laki, atau hanya sebagai pelaksana kebijakan kaum laki-laki. Perbedaan laki-laki dan perempuan hanyalah swadharma-nya.
    Dengan adanya swadharma, kehidupan makhluk di alam semesta ini dapat mencerminkan aktivitas yang dinamis, seimbang, selaras, dan serasi. Kalau swadharma ini diubah oleh manusia sendiri, hanya atas dasar kemajuan zaman dan teknologi, itu sama dengan mengubah kesadaran, keseimbangan dan keserasian alam terhadap isinya. Perubahan kesadaran bisa timbul disharmoni dan akan berimplikasi negatif terhadap akhlak, moral, budi dan perilaku manusia sehingga kehancuran tak terhindarkan hal ini yang disebut kali yuga.
    Ada 4 kasta di agama hindu
    1. Kasta bhramana merupakan kasta tertinggi ,bertugas menjalankan upacara-upacara keagamaan .Adapun yg termasuk kasta ini adalah para brahmana .
    2. Kasta ksatria bertugas menjalankan pemerintaha yg termasuk kasta ini adalah para raja ,bang sawan ,&prajurit
    3. Kasta waisya kasta dari golongan Pekerja ,seperti para petani & pedagang
    4. Kasta sudra , merupakan kasta kasta yg paling rendah seperti Rakyat biasa (pekerja kasar).
    Selanjutnya,sebuah sistem kasta yang dianut oleh pemeluk agama Hindu, tapi masih saja mengatur hubungan perkawinan dengan interpretasi yang timpang.

    D.    Feminis Hindu: perjuangan melawan ketidaksetaraan
    Dalam Hindu, wanita selalu diberikan kedudukan yang terhormat sejajar dengan laki-laki. Dimana saja wanita dihormati di sana. Keharmonisan akan tercipta dan sebaliknya, dimana wanitanya tidak dihormati cepat atau lambat akan terjadi prahara di dalam rumah tangga.
    Wanita dikatakan sebagai lambang keutamaan cita-cita yang luhur dan utama dan sebagai barometer maju mundurnya rumah tangga. Jadilah wanita yang bersifat mayurastri atau bersifat seperti burung merak, yang mempunyai wibawa dan kharismatik sebagai seorang wanita dan mampu memberikan pengayoman dan  kesejukan dalam rumah tangga. Seorang ibu telah berkorban lahir dan batin untuk kepentingan anak dan keluarga. Seorang ibu  sebagai peredam berbagai  gejolak dalam rumah tangga, sebagai motivasi menerima kelebihan dan kekurangan dalam keluarga.
    Hari Ibu Di sinilah peran seorang ibu sebagai ratu rumah tangga sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya, dan anggota keluarga yang lainnya. Dalam keluarga yang harmonis, tiap hari anggota keluarga diajarkan saling mengeluarkan pemikiran yang positif, anggota diajak sembahyang bersama dan diisi juga dengan berbagai nasihat.
    Seorang ibu tidak saja dihormati pada peringatan hari ibu, namun kita hedaknya mampu menghormati dan menempatkan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Seorang ibu mempunyai swadharma yang begitu komplek dalam kehidupan ini. Dari mengandung anak, melahirkan, mendidik dan memberikan kehidupan sehingga anaknya berhasil  menjadi anak yang suputra, mendampingi suami dalam keadaan apapun, mengatur rumah tangga dan sebagainya. Di samping peranan pokoknya sebagai ibu rumah tangga (Dharmapatni) yang berkewajiban mendampingi suami, mengasuh anak-anak dan menjalankan peran dan fungsinya sebagai  ibu rumah tangga.
    Sesungguhnya kita  sebagai anak mempunyai utang yang sangat besar, kepada orangtua  yaitu Sarira krt (yang menyebabkan badan ini ada ), annadatta ( yang memberi makan dan minum selama kehidupan) dan pranadatta (yang memberi hidup serta mengasuhnya). Tidak ada kasih sayang yang melebihi kasih ibu. Dari ibulah mengalir kasih pertama yang meresapi tubuh kita. Kasih sayang ibu kepada anaknya sama rata ,baik anaknya yang mampu maupun kepada anaknya  yang tidak mampu.
    Kaum wanita telah mampu berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof, pujangga, kesatria , sebagai soko guru kehidupan masyarakat dan negara, menentukan tegaknya hukum kebenaran (dharma) dan adat istiadat (Dresta).Wanita sangat menentukan maju mundurnya kehidupan keluarga, masyarakat dan negara bahkan  sering dijadikan cermin perkembangan keluarga, masyarakat dan negara.  Dengan demikian seorang ibu hendaknya memperlihatkan wajah yang berseri-seri sehingga keharmonisan dan kebahagian dalam keluarga menjadi  terwujud.

    Relasi Gender Dalam Agama Buddha
    A.    Status Perempuan dalam ajaran Agama Buddha
    Dalam tradisi Buddhisme, sejak awal memberikan tempat kepada perempuan egaliter dengan laki-laki. Hal ini misalnya dapat dilihat betapa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menempuh jalan spiritual untuk mencapai Nirwana. Hal ini termaktub dalam teks: “Siapapun yang memiliki kendaraan seperti itu, baik perempuan maupun laki-laki, sesungguhnya dengan mempergunakan kendaraan tadi, ia akan mencapai Nirwana”. Buddhisme juga memiliki ordo rahib perempuan, dia dapat mencapai Nirwana. Karenanya, rintangan utama untuk mencapai pencerahan bukanlah perempuan, tetapi sikap mental. Namun demikian, dalam aliran Buddha Mahayana, perempuan diposisikan lebih rendah daripada laki-laki.

    B.     Peran perempuan dalam sejarah perkembangan Agama Buddha.
    Dalam kehidupan bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran laki-laki maupun perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki, perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang Budha.
    Mengacu pada perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan kemitrasejajaran perempuan telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang Budha. Hal ini dapat dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah perempuan dan diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam perkembangan agama Budha
    Kesetaraan gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai gender.
    Dalam Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa tertinggal memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang agung, karenanya agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi kehidupannya, maka keduanya memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru dari sinilah muncul keseimbangan.

    C.     Reinterpretasi dan adaptasi peran-peran gender tradisional
    dari tradisi Mahayana. Dia melihat bahwa ajaran-ajaran Budha, meskipun itu terdapat dalam teks-teks Tripitaka yang bersifat seksis, merupakan pengaruh dari Konfusianisme, sikap anti feminis dari Hindu (Brahmanisme)dan pengaruh dari agama-agama lokal.
    Ajaran Budha yang paling dasar, yaitu egalitarianisme, ternyata justru menjebak. Karena agam Budha yang dipercaya tidak seksis, ternyata ada teks-teks ajarannya yang bersifat seksis. Sehingga perlu adanya reinterpretasi dan kalau perlu, reformasi.

    0 komentar:

    Posting Komentar