Kamis, 03 Desember 2015

Tagged Under:

Responding Paper "Relasi Gender Dalam Agama Kongfutse"

By: Unknown On: 02.34
  • Share The Gag


  • Oleh: Mei Marlina (1113032100054)
     
    Perempuan dalam agama kongfutse yakni disamakan oleh sebuah bumi artinya sangat rendah karena ia harus tunduk, patuh, mengalah, seseorang yang pasif dan perempuan hanya dilihat dari konteks keluarga. Perempuan itu dianggapa lemah, inferior secara alami, berubah-ubah seperti air, gelap seperti bulan, cemburu, sempit pandangannya dan suka menyendiri(five classisc). Menurut Richard Guisso sikap-sikap negatif ini terdapat pada teks-teks kanonik dalam konghucu awal. Dia tidak bijaksana, tidak cerdas, dan dinominaso oleh emosi, kecantikannya hanya untuk menjebak kaum laki-laki dan menghancurkan kedudukanya. Beda dengan pandangan seorang laki-laki dalam agama ini dia di samakan dengan langit yakni cerdas, tinggi, luas, kuat superior, dan dilihat dari aspek politik dan sosial.
    Para penganut agama ini laki-laki disebut sebagai sheng tao(jalan kebijaksann) dan peprempuan disebut sebagai fu-tao yaitu memegang sapu yang dimana arti dari ini ialah perempuan hanya berada dalam pondokan dan disediakan pengatur dan tidak boleh untuk keluar rumah. Dalam keluarga istri harus patuh kepada suaminya.
    Ada tiga kewajiban untuk perempuan : anak perempuan harus patuh kepada ayahnya, seorang istri harus tunduk pada suaminya, dsn seorang istri yang ditinggal pergi suaminya harus patuh pada anak laki-lakinya, patuh disini iyalah bukan harus tunduk kepada anaknya, laki-laki setelah dewasa ia mengurus ibunya dan menjaganya. Seorang laki-laki berumur 10 tahun itu bebas untuk keluar rumah sedangkan perempuan itu mulai untuk menetap  pada sebuah pondokan, pengaturnya hanya mengajarkan dia untuk seni, berbicara dan belajar untukk melayani seorang suami dan ketika umur 20 perempuan harus menikah, perempuan setela menikah harus mempunyaosifat karakter yang baik dan sopan.
    Selama pemerintah dinasti Han (206 SM-220 M), konfusianisme menjadi sebuah ortodoksi, perepmpuan dibawa oleh aliran-aliran yang membawa oada pokok tradisi yang memberikan sebuah karya-karya dan dapat dijadikan contoh. Terdapat dua buku yakni dengan judul instructions for women(nu-chieh) yang dikarang oleh pan chao, dan biographies of examplary wmen(lich nuchuan) oleh liu hsiang.
    Pan chao (116 M) adalah seorang yang memiliki pendidikan yang snagat tingii, pan chao memberikan ilmu kepada perempuan mengenai menurus rumah tangga dan perempuan melakukan kebiasaan ini : meletakaan bayi diatas tempat tidur, memberiknanya pecahan barang tanha untuk nernain dan mehumunkan kelahirannya kepada para leluhur dengan sesaji,(nueh chieh 1)
    Praktek kuno ini diajarkan agar perempuan tunduk dan bersikap rendah. Peran permpuan dalam perkembangan ini pada intinya ialah perempuan harus rendah dan tunduk sert mengurus rumah tangga dengan baik dan benar serta memikiki kewajiban untuk selalu menjaga dririnya baik-baik. Seperti dalam sejarah dan dalam cerita sebelum nabi konghucu yakni para laki-laki yang menjadi raja mempunyia selir.
     Begitu pentingnya makna hubungan suami-isteri tersebut sehingga tidak dapat diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya semua hubungan kemanusiaan. Kemudian, anak yang lahir dari perkawinan suami-isteri dituntut untuk menaruh hormat (berbakti) kepada kedua orang tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau King (Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran Agama berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah dan bunda. Perbuatannya tidak berani membiarkannya rusak dan luka, itulah permulaan/dasar laku bakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda, itulah akhir laku bakti”.
    Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat”.
    Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas dikehendaki terpeliharanya hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama saudara tidak memandang jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang saling menghargai peranan satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.
                Didalam gerakan neo-konfusianisme ini para feminolog bergabung dan menulis banyak buku tentang wanita. Wanita mengajar wanita dengan cara konfusian. Aspek-aspek diskriminasi, pembatasan-pembatasan terhadap aspek wanita diterima dengan rasa syukur dan disiplin, mereka menjadi konfusianis yang sungguh-sungguh dan tekun dibanding dengan laki-laki. Sesudah revolusi, wanita dan laki-laki melakukan evaluasi kritis tentang ajaran-ajaran yang sudah ada. Proses itu berjalan dengan baik.
                Karya pan chao, penting untuk menyinggung karya pan chao (?-11 6M.) dari dinasti Han. Dia adalah pengajar wanita kofusianisme pertama yang mengajar kepada sesama wanita. Pada masa dinasti Han. (206 S.M-220 M.) konfusianisme menafsirkan peran Negara menjadi ortodoks dan pada saat itu ada usaha untuk membawa wanita masuk dalam arus utama tradisi. Sehingga pan chao dapat menjadi seorang pengajar para wanita di istana dan menulis sebuah buku “instruction for women”. Dalam bagian pertama buku itu, dia menulis sesuatu tentang keprihatinannya terhadap wanita yang tidak kawin dalam keluarganya. Baginya wanita yang tidak kawin tiak dipersiapkan oleh keluarganya untuk masa depan mereka bekerja sebagai istri.
    Ajaran ini mengartikan bahwa pertama, wanita harus bersikap rendah hati, patuh, seperti halnya bumi, merendahkan diri dihadapan yang lain; kedua dia harus bekerja keras dan pandai dalam pekerjaan sehari-hari; dan ketiga, di harus sepenuhnya masuk dalam tanggung jawab seorang istri terhadap suaminya, sanak-saudara dan lain-lain.
                Di dalam sejarah sosial perempuan pada masa Chun Chiu ( 722 SM -481 SM) terdapat adanya anggapan bahwa kemargaaan perempuan tidak begitu memiliki wewenang dalam urusan menurun-temurun nama keluarganya. Sehingga dengan adanya anggapan seperti itu, sangat berkaitan bahwa kaum pria diharuskan berperan penting dalam membina keluarga.
                Sebab dalam membenarkan nama-nama, Ajaran Khonghucu mengajarkan lima pola hubungan sosial, yang dinamakan Ngo Lun, yaitu : hubungan antara raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan istri dan antara seorang individu dengan individu lainnya.
                Untuk memenuhinya ada beberapa petunjuk sebagai berikut:
    1.      Tiga pokok kepatuhan
                Sebagai seorang anak, wanita wanita harus patuh pada ayahnya. Sebagai wanita yang sudah menikah, ia harus mengikuti suaminya, dan sebagai seorang janda ia mengikuti anak-anak lakinya. Harus ada anak laki-laki yang harus dipatuhinya. Ia tidak pernah mandiri, tidak pernah bisa membuat suatu keputusan penting. Ingat bahwa paham kosmologi kofusianisme, wanita dipandang rendah dan bersikap patuh seperti bumi. Dia tidak bisa keluar dari itu.
    2.      Lima pokok utama tentang hubungan-hubungan
                Para penguasa dan warga Negara, ayah dan anak laki-laki, suami dan istri, anak sulung dan anak bungsu. Orang yang ada pada kategori pertama harus memberikan jen kepada yang kedua, sedangkan orang-orang pada kategori kedua harus memelihara semua peraturan dan ketetapan secara rinci.
    3.      Tujuh kejahatan sebagi dasar untuk bercerai
                Perkawinan adalah sebuah peristiwa suci, dicatat dalam aturan kosmikdengan garis keturunan yang tidak dapat diputus. Jika seorang istri melakukan satu diantara ketujuh kejahatan, dia harus dikirim kerumah asalny. Ini berarti pedoman kehormatan yang sangat besar. Ketujuh dasar kejahan besar adalah ketidaktundukan pada keluarga suami, kegagalan memberikan anak laki-laki, berhubungan seks dengan orang lain, kecemburuan, mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan, bicara banyak dan suka mencuri.
    4.      Kesucian bagi wanita
                Bagi seorang wanita, menjaga kesuciannya lebih dari menjaga integritas pribadinya. Istilah ini dimaksudkan lebih luas dari sekedar soal pantangan seksual, tetapi mencakup pengertian yang lebih umum tentang kehormatan.

    0 komentar:

    Posting Komentar