Oleh: Mei
Marlina (1113032100054)
Perempuan
dalam agama kongfutse yakni disamakan oleh sebuah bumi artinya sangat rendah
karena ia harus tunduk, patuh, mengalah, seseorang yang pasif dan perempuan
hanya dilihat dari konteks keluarga. Perempuan itu dianggapa lemah, inferior
secara alami, berubah-ubah seperti air, gelap seperti bulan, cemburu, sempit
pandangannya dan suka menyendiri(five classisc). Menurut Richard Guisso
sikap-sikap negatif ini terdapat pada teks-teks kanonik dalam konghucu awal.
Dia tidak bijaksana, tidak cerdas, dan dinominaso oleh emosi, kecantikannya
hanya untuk menjebak kaum laki-laki dan menghancurkan kedudukanya. Beda dengan
pandangan seorang laki-laki dalam agama ini dia di samakan dengan langit yakni
cerdas, tinggi, luas, kuat superior, dan dilihat dari aspek politik dan sosial.
Para
penganut agama ini laki-laki disebut sebagai sheng tao(jalan kebijaksann) dan
peprempuan disebut sebagai fu-tao yaitu memegang sapu yang dimana arti dari ini
ialah perempuan hanya berada dalam pondokan dan disediakan pengatur dan tidak
boleh untuk keluar rumah. Dalam keluarga istri harus patuh kepada suaminya.
Ada tiga
kewajiban untuk perempuan : anak perempuan harus patuh kepada ayahnya, seorang
istri harus tunduk pada suaminya, dsn seorang istri yang ditinggal pergi
suaminya harus patuh pada anak laki-lakinya, patuh disini iyalah bukan harus
tunduk kepada anaknya, laki-laki setelah dewasa ia mengurus ibunya dan
menjaganya. Seorang laki-laki berumur 10 tahun itu bebas untuk keluar rumah
sedangkan perempuan itu mulai untuk menetap
pada sebuah pondokan, pengaturnya hanya mengajarkan dia untuk seni,
berbicara dan belajar untukk melayani seorang suami dan ketika umur 20
perempuan harus menikah, perempuan setela menikah harus mempunyaosifat karakter
yang baik dan sopan.
Selama pemerintah dinasti Han (206 SM-220 M), konfusianisme menjadi
sebuah ortodoksi, perepmpuan dibawa oleh aliran-aliran yang membawa oada pokok
tradisi yang memberikan sebuah karya-karya dan dapat dijadikan contoh. Terdapat
dua buku yakni dengan judul instructions for women(nu-chieh) yang dikarang oleh
pan chao, dan biographies of examplary wmen(lich nuchuan) oleh liu hsiang.
Pan chao (116 M) adalah seorang yang memiliki pendidikan yang snagat
tingii, pan chao memberikan ilmu kepada perempuan mengenai menurus rumah tangga
dan perempuan melakukan kebiasaan ini : meletakaan bayi diatas tempat tidur, memberiknanya
pecahan barang tanha untuk nernain dan mehumunkan kelahirannya kepada para
leluhur dengan sesaji,(nueh chieh 1)
Praktek kuno ini diajarkan agar perempuan tunduk dan bersikap rendah.
Peran permpuan dalam perkembangan ini pada intinya ialah perempuan harus rendah
dan tunduk sert mengurus rumah tangga dengan baik dan benar serta memikiki
kewajiban untuk selalu menjaga dririnya baik-baik. Seperti dalam sejarah dan
dalam cerita sebelum nabi konghucu yakni para laki-laki yang menjadi raja
mempunyia selir.
Begitu
pentingnya makna hubungan suami-isteri tersebut sehingga tidak dapat
diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya semua hubungan kemanusiaan.
Kemudian, anak yang lahir dari perkawinan suami-isteri dituntut untuk menaruh
hormat (berbakti) kepada kedua orang tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau
King (Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran
Agama berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah
dan bunda. Perbuatannya tidak berani membiarkannya rusak dan luka, itulah
permulaan/dasar laku bakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci,
meninggalkan nama baik di jaman kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda,
itulah akhir laku bakti”.
Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam
mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di
dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada
pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat”.
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas dikehendaki terpeliharanya
hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama saudara tidak memandang
jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang saling menghargai peranan
satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa di
dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.
Didalam gerakan neo-konfusianisme ini para feminolog bergabung dan
menulis banyak buku tentang wanita. Wanita mengajar wanita dengan cara
konfusian. Aspek-aspek diskriminasi, pembatasan-pembatasan terhadap aspek
wanita diterima dengan rasa syukur dan disiplin, mereka menjadi konfusianis
yang sungguh-sungguh dan tekun dibanding dengan laki-laki. Sesudah revolusi,
wanita dan laki-laki melakukan evaluasi kritis tentang ajaran-ajaran yang sudah
ada. Proses itu berjalan dengan baik.
Karya pan chao, penting
untuk menyinggung karya pan chao (?-11 6M.) dari dinasti Han. Dia adalah
pengajar wanita kofusianisme pertama yang mengajar kepada sesama wanita. Pada
masa dinasti Han. (206 S.M-220 M.) konfusianisme menafsirkan peran Negara
menjadi ortodoks dan pada saat itu ada usaha untuk membawa wanita masuk dalam
arus utama tradisi. Sehingga pan chao dapat menjadi seorang pengajar para
wanita di istana dan menulis sebuah buku “instruction for women”. Dalam bagian
pertama buku itu, dia menulis sesuatu tentang keprihatinannya terhadap wanita
yang tidak kawin dalam keluarganya. Baginya wanita yang tidak kawin tiak
dipersiapkan oleh keluarganya untuk masa depan mereka bekerja sebagai istri.
Ajaran
ini mengartikan bahwa pertama, wanita harus bersikap rendah hati, patuh,
seperti halnya bumi, merendahkan diri dihadapan yang lain; kedua dia harus
bekerja keras dan pandai dalam pekerjaan sehari-hari; dan ketiga, di harus
sepenuhnya masuk dalam tanggung jawab seorang istri terhadap suaminya,
sanak-saudara dan lain-lain.
Di dalam sejarah sosial perempuan pada masa Chun Chiu ( 722 SM -481 SM)
terdapat adanya anggapan bahwa kemargaaan perempuan tidak begitu memiliki
wewenang dalam urusan menurun-temurun nama keluarganya. Sehingga dengan adanya
anggapan seperti itu, sangat berkaitan bahwa kaum pria diharuskan berperan
penting dalam membina keluarga.
Sebab dalam membenarkan
nama-nama, Ajaran Khonghucu mengajarkan lima pola hubungan sosial, yang
dinamakan Ngo Lun, yaitu : hubungan
antara raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan istri dan antara
seorang individu dengan individu lainnya.
Untuk memenuhinya ada
beberapa petunjuk sebagai berikut:
1.
Tiga pokok kepatuhan
Sebagai seorang anak,
wanita wanita harus patuh pada ayahnya. Sebagai wanita yang sudah menikah, ia
harus mengikuti suaminya, dan sebagai seorang janda ia mengikuti anak-anak
lakinya. Harus ada anak laki-laki yang harus dipatuhinya. Ia tidak pernah
mandiri, tidak pernah bisa membuat suatu keputusan penting. Ingat bahwa paham
kosmologi kofusianisme, wanita dipandang rendah dan bersikap patuh seperti
bumi. Dia tidak bisa keluar dari itu.
2.
Lima pokok utama tentang
hubungan-hubungan
Para penguasa dan warga
Negara, ayah dan anak laki-laki, suami dan istri, anak sulung dan anak bungsu.
Orang yang ada pada kategori pertama harus memberikan jen kepada yang kedua,
sedangkan orang-orang pada kategori kedua harus memelihara semua peraturan dan
ketetapan secara rinci.
3.
Tujuh kejahatan sebagi
dasar untuk bercerai
Perkawinan adalah
sebuah peristiwa suci, dicatat dalam aturan kosmikdengan garis keturunan yang
tidak dapat diputus. Jika seorang istri melakukan satu diantara ketujuh
kejahatan, dia harus dikirim kerumah asalny. Ini berarti pedoman kehormatan
yang sangat besar. Ketujuh dasar kejahan besar adalah ketidaktundukan pada
keluarga suami, kegagalan memberikan anak laki-laki, berhubungan seks dengan
orang lain, kecemburuan, mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan, bicara
banyak dan suka mencuri.
4.
Kesucian bagi wanita
Bagi seorang wanita,
menjaga kesuciannya lebih dari menjaga integritas pribadinya. Istilah ini
dimaksudkan lebih luas dari sekedar soal pantangan seksual, tetapi mencakup
pengertian yang lebih umum tentang kehormatan.
0 komentar:
Posting Komentar