Syarah Muthia 1113032100069
Relasi
Gender dalam Agama Konghucu
·
Status
perempuan dalam agama kongfutse
Perempuan
dalam agama kongfutse yakni disamakan oleh sebuah bumi artinya sangat rendah
karena ia harus tunduk, patuh, mengalah, seseorang yang pasif dan perempuan
hanya dilihat dari konteks keluarga. Perempuan itu dianggapa lemah, inferior
secara alami, berubah-ubah seperti air, gelap seperti bulan, cemburu, sempit
pandangannya dan suka menyendiri(five classisc). Menurut Richard Guisso
sikap-sikap negatif ini terdapat pada teks-teks kanonik dalam konghucu awal.
Dia tidak bijaksana, tidak cerdas, dan dinominaso oleh emosi, kecantikannya
hanya uuntuk menjebak kaum laki-laki dan menghancurkan keddukanya. Beda dengsnp
padndangan seorang laki-laki dalam agama ini dia di samakan dengan langit yakni
cerdas, tinggi, luas, kuat superior, dan dilihat dari aspek politik dan sosial.
Para penganut agama ni laki-laki disebut sebagai sheng tao(jalan kebijaksann)
dan peprempuan disebut sebagai fu-tao yaitu memegang sapu yang dimana arti dari
ini ialah perempuan hanya berada dalam pondokan dan disediakan pengatur dan
tidak boleh untuk keluar rumah. Dalam keluarga istri harus patuh kepada
suaminya. Ada tiga kewajiban untuk perempuan : annak perempuan harus patuh
kepada ayahnya, seorng istri harus tunduk pada suaminya, dsn seorang istri yang
ditinggal pergi suaminya harus patuh pada anak laki-lakinya, patuh disini
iyalah bukan harus tunduk kepada anaknya, laki-laki setelah dewasa ia mengurus
ibunya dan menjaganya. Seorang laki-laki berumur 10 tahun itu bebas untuk
keluar rumah sedangkan perempuan itu mulai untuk menetap pada sebuah pondokan, pengaturnya hanya
mengajarkan dia untuk seni, berbicara dan belajar untukk melayani seorang suami
dan ketika umur 20 perempuan harus menikah, perempuan setela menikah harus
mempunyaosifat karakter yang baik dan sopan.[1]
·
Peran
perempuan dalam perkembangan agama kongfutse
Selama
pemerintah dinasti Han (206 SM-220 M), konfusianisme menjadi sebuah ortodoksi,
perepmpuan dibawa oleh aliran-aliran yang membawa oada pokok tradisi yang
memberikan sebuah karya-karya dan dapat dijadikan contoh. Terdapat dua buku
yakni dengan judul instructions for women(nu-chieh) yang dikarang oleh pan
chao, dan biographies of examplary wmen(lich nuchuan) oleh liu hsiang.
Pan
chao (116 M) adalah seorang yang memiliki pendidikan yang snagat tingii, pan
chao memberikan ilmu kepada perempuan mengenai menurus rumah tangga dan
perempuan melakukan kebiasaan ini : meletakaan bayi diatas tempat tidur,
memberiknanya pecahan barang tanha untuk nernain dan mehumunkan kelahirannya
kepada para leluhur dengan sesaji,(nueh chieh 1)
Praktek
kuno ini diajarkan agar perempuan tunduk dan bersikap rendah. Peran permpuan
dalam perkembangan ini pada intinya ialah perempuan harus rendah dan tunduk
sert mengurus rumah tangga dengan baik dan benar serta memikiki kewajiban untuk
selalu menjaga dririnya baik-baik. Seperti dalam sejarah dan dalam cerita
sebelum nabi konghucu yakni para laki-laki yang menjadi raja mempunyia selir.[2]
·
Status
perempuan dalam neo-confusianisme
Status
perempuan dalam ini benar-benar menganut ajaran kosmis yang tadi sudah dibahas
sebelumnya bahwa perempuan dianggap bumi dan laki-laki dianggap langit namun
pada ketikaneo confiusienisme muncul banyak tulisan-tulisan yang mengatakan
bahwa perempuan harus dijaga kesuciannya dan menekankan kehormatan pada
perempuan.
·
Reinterpretasi
dan adaptasi peran-peran gender tradisional
Begitu pentingnya makna hubungan suami-isteri
tersebut sehingga tidak dapat diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya
semua hubungan kemanusiaan. Kemudian, anak yang lahir dari perkawinan
suami-isteri dituntut untuk menaruh hormat (berbakti) kepada kedua orang
tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau King (Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti
itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran Agama berkembang. Tubuh, anggota
badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah dan bunda. Perbuatannya tidak
berani membiarkannya rusak dan luka, itulah permulaan/dasar laku bakti.
Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman
kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda, itulah akhir laku bakti”.
Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti)
tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti
mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat
seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari
pemimpin diambil rasa hormat”.
Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas
dikehendaki terpeliharanya hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama
saudara tidak memandang jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang
saling menghargai peranan satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan
oleh Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.
0 komentar:
Posting Komentar