Kamis, 26 November 2015

Tagged Under:

Responding Paper Relasi gender dalam agama Kongfutse

By: Unknown On: 07.03
  • Share The Gag


  • Syarah Muthia 1113032100069

    Relasi Gender dalam Agama Konghucu
    ·         Status perempuan dalam agama kongfutse
    Perempuan dalam agama kongfutse yakni disamakan oleh sebuah bumi artinya sangat rendah karena ia harus tunduk, patuh, mengalah, seseorang yang pasif dan perempuan hanya dilihat dari konteks keluarga. Perempuan itu dianggapa lemah, inferior secara alami, berubah-ubah seperti air, gelap seperti bulan, cemburu, sempit pandangannya dan suka menyendiri(five classisc). Menurut Richard Guisso sikap-sikap negatif ini terdapat pada teks-teks kanonik dalam konghucu awal. Dia tidak bijaksana, tidak cerdas, dan dinominaso oleh emosi, kecantikannya hanya uuntuk menjebak kaum laki-laki dan menghancurkan keddukanya. Beda dengsnp padndangan seorang laki-laki dalam agama ini dia di samakan dengan langit yakni cerdas, tinggi, luas, kuat superior, dan dilihat dari aspek politik dan sosial. Para penganut agama ni laki-laki disebut sebagai sheng tao(jalan kebijaksann) dan peprempuan disebut sebagai fu-tao yaitu memegang sapu yang dimana arti dari ini ialah perempuan hanya berada dalam pondokan dan disediakan pengatur dan tidak boleh untuk keluar rumah. Dalam keluarga istri harus patuh kepada suaminya. Ada tiga kewajiban untuk perempuan : annak perempuan harus patuh kepada ayahnya, seorng istri harus tunduk pada suaminya, dsn seorang istri yang ditinggal pergi suaminya harus patuh pada anak laki-lakinya, patuh disini iyalah bukan harus tunduk kepada anaknya, laki-laki setelah dewasa ia mengurus ibunya dan menjaganya. Seorang laki-laki berumur 10 tahun itu bebas untuk keluar rumah sedangkan perempuan itu mulai untuk menetap  pada sebuah pondokan, pengaturnya hanya mengajarkan dia untuk seni, berbicara dan belajar untukk melayani seorang suami dan ketika umur 20 perempuan harus menikah, perempuan setela menikah harus mempunyaosifat karakter yang baik dan sopan.[1]
    ·         Peran perempuan dalam perkembangan agama kongfutse
    Selama pemerintah dinasti Han (206 SM-220 M), konfusianisme menjadi sebuah ortodoksi, perepmpuan dibawa oleh aliran-aliran yang membawa oada pokok tradisi yang memberikan sebuah karya-karya dan dapat dijadikan contoh. Terdapat dua buku yakni dengan judul instructions for women(nu-chieh) yang dikarang oleh pan chao, dan biographies of examplary wmen(lich nuchuan) oleh liu hsiang.
    Pan chao (116 M) adalah seorang yang memiliki pendidikan yang snagat tingii, pan chao memberikan ilmu kepada perempuan mengenai menurus rumah tangga dan perempuan melakukan kebiasaan ini : meletakaan bayi diatas tempat tidur, memberiknanya pecahan barang tanha untuk nernain dan mehumunkan kelahirannya kepada para leluhur dengan sesaji,(nueh chieh 1)
    Praktek kuno ini diajarkan agar perempuan tunduk dan bersikap rendah. Peran permpuan dalam perkembangan ini pada intinya ialah perempuan harus rendah dan tunduk sert mengurus rumah tangga dengan baik dan benar serta memikiki kewajiban untuk selalu menjaga dririnya baik-baik. Seperti dalam sejarah dan dalam cerita sebelum nabi konghucu yakni para laki-laki yang menjadi raja mempunyia selir.[2]
    ·         Status perempuan dalam neo-confusianisme
    Status perempuan dalam ini benar-benar menganut ajaran kosmis yang tadi sudah dibahas sebelumnya bahwa perempuan dianggap bumi dan laki-laki dianggap langit namun pada ketikaneo confiusienisme muncul banyak tulisan-tulisan yang mengatakan bahwa perempuan harus dijaga kesuciannya dan menekankan kehormatan pada perempuan.
    ·         Reinterpretasi dan adaptasi peran-peran gender tradisional
    Begitu pentingnya makna hubungan suami-isteri tersebut sehingga tidak dapat diperkirakan, karena dari merekalah berawalnya semua hubungan kemanusiaan. Kemudian, anak yang lahir dari perkawinan suami-isteri dituntut untuk menaruh hormat (berbakti) kepada kedua orang tuanya. Seperti tertulis dalam kitab Hau King (Bakti),”Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah pokok Kebajikan, darinya ajaran Agama berkembang. Tubuh, anggota badan, rambut, dan kulit diterima dari ayah dan bunda. Perbuatannya tidak berani membiarkannya rusak dan luka, itulah permulaan/dasar laku bakti. Menegakkan diri hidup melaksanakan Jalan Suci, meninggalkan nama baik di jaman kemudian, sehingga memuliakan ayah-bunda, itulah akhir laku bakti”.
    Pada ayat lain dalam Kitab Hau King ( Bakti) tertulis,”Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa cinta seperti mengabdi kepada ibu. Di dalam mengabdi kepada ayah hendaknya ada rasa hormat seperti mengabdi kepada pemimpin. Maka, dari ibu diambil rasa cinta dan dari pemimpin diambil rasa hormat”.
    Dari ayat-ayat di atas terlihat jelas dikehendaki terpeliharanya hubungan yang harmonis antara suami-isteri, sesama saudara tidak memandang jender, sehingga dapat dibangun kehidupan sosial yang saling menghargai peranan satu sama yang lainnya, mengingat manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini memiliki arti dan fungsinya masing-masing.



    [1]  Willhem, Book of changes, k’un hexagram : 1967, h. 386-388
    [2]  Arvand Sharma, perempuan dalam agama-agama dunia, h. 202

    0 komentar:

    Posting Komentar