syarah muthia 1113032100069
Relasi
gender dalam agama kristen
Injil
sebagaimana kitab suci agama lainnya sangat ambigu dalam melihat status
perempuan. Satu sisi membela kehidupan perempuan, disatu sisi lainnya
menempatkan perempuan pada posisi marginal. Misalnya ditemukan stereotype
perempuan sebagai penggoda, tidak memiliki hak untuk menjadi pemimpin ritual
dan lain-lain. Namun terdapat pula beragam teks-teks Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru yang menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi setara,
seperti doktrin tentang penciptaan manusia. Meskipun demikian, teks-teks yang
misoginis lah yang justru lebih popular dikalangan umat kristiani dibandingkan
dengan teks-teks yang bernuansa kesetaraan. Yaitu ajaran tentang manusia
menurut agama Kristen adalah semula manusia diciptakan menurut gambar dan rupa
Allah (Imago Dei). Tetapi manusia telah memberontak dan selalu
akanmemberontak kepada Allah. Semula manusia Adam dan Hawa adalah manusia suci
karena mereka diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. tuuan penciptaannya
adalah agar manusia dapat bersekutu dengan Allah dan mencerminkan kemuliaan-Nya
didunia.
Disini
berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan
derajat yang sama dan menurut gambar Allah, disamping itu juga menekankan bahwa
manusia itu sama hakikat dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah
menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga
manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari
Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan
"Segambar" dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya
laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang
sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam
bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.
Jika
demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan
laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan
perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah
(Kej. 3:12 dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa
mempersalahkan ular sebagai penggoda.Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam.Adam
dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang,
tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam
ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain,
perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada
kedua pihak.Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi
Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa.Dalam perkembangan selanjutnya peran
serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi
laki-laki terhadap perempuan.Dalam berbagai peran, perempuan selalu dibatasi.
Begitu pula
raktek relasi antara laki-laki dan perempuan dalam gereja sangat dipenngaruhi
oleh pemhahaman para teolog Kristen terhadap Alkitab. Diktrin tentang
kesetaraan gender sebenarnya sudah diungkapkan dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru yang menjadi fondasi utama bagi umat kristiani, baik secara
eksplisit maupun implicit. Namun selama ini doktrin kesetaraan kurang
tersosialisasikan dimasyarakat karena penafsiran yang patriarkis lebih fenomenal
dibandingkan yang sebaliknya. Doktrin-doktrin yang terkait dengan persamaan
dalam penciptaan, merupakan doktrin utama tentang kesetaraan yang kurang
diapresiasi. Selama ini doktrin tentang penciptaan selalu dikaitkan dengan
ayat-ayat Bibel yang menjelaskan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk
laki-laki dan implikasinya perempuan menjadi manusia kelas dua. Ajaran tentang
kesetaraan juga tampak dalam konsep tentang persamaan dalam penebusan dosa dan
keselamatan (redemption and salvation). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa
laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk penebusan dosa dan
keselamatan. Do’a-do’a yang dipanjatkan oleh laki-laki dan perempuan dalam
agama Kristen sama-sama akan dikabulkan Tuhan, tanpa rintangan.
Persamaan
relasi suami istri merupakan ajaran tentang kesetaraan gender yang kurang
tersosialisasikan. Statement terkait relasi suami istri yang seharusnya saling
melengkapi, saling mengasihi, saling berbagi, dan saling menutupi kekurangan
masing-masing dapat dilihat dalam Surat St Paul’s kepada orang-orang Korintian.
Kewajiban suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang baik dan penuh
respect juga menjadi ajaran yang tertea dalam kitab suci. Selain itu, perempuan
dan laki-laki memiliki persamaan dalam membantu dan melayani orang lain yang
memang membutuhkan, sesuai dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci.
Perempuan sama seperti laki-laki dipanggil untuk melayani orang-orang lain,
menyatakan buah Roh (Galatia 5:22-23), dan untuk memproklamirkan injil kepada
mereka yang belum mengetahuinya (Matius 28:18-20; Kisah Rasul 1:8; Petrus
3:15).
Kita lihat
di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki
atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat
tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika
pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan
berzinah lalu dibawa kepada Yesus.Mereka minta supaya perempuan ini dihukum
rajam sesuai aturan Yahudi.Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan
mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki
yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang
tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Namun
Tidak ada yang berani melakukannya.Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang
dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11)
·
Perempuan
dalam Perspektif Teologi Kristen
Laki-laki dan perempuan meskipun berbeda dalam
berbagai hal, tetap merupakan pribadi-pribadi yang mempunyai nilai yang sama
karena keduanya diciptakan berdasarkan “gambar” Tuhan. Ajaran semacam ini,
tampak pada naskah pasca-paulus dalam Perjanjian Baru, yang mensistematisir
agama Kristen Patriarkhal.Dengan demikian, ajaran ini berlawanan dengan sistem
ajaran Kristen kerakyatan awal.
Pada gerakan kristen akhir-akhir ini, terdapat banyak
aktivis dan pemikir yang memberikan hak yang sama antara laki-laki dan
perempuan. Grimke misalnya, menyatakan bahwa kelemahan wanita dalam hal intelektualitas
dan kepemimpinan bukanlah hal yang alami, namun karena adanya
penyimpangan-penyimpangan sosial. Sekali perempuan dibebaskan dari
ketidakadilan sosial, maka ia akan mendapatkan hak dan kesempatan yang sama.
·
Peran
Feminis Kristen
Kesadaran feminis dalam tradisi Kristen muncul sejak
tahun 1820-an. Kesadaran ini terjadi sejalan dengan hasrat yang kuat dari
perempuan Amerika untuk melakukan perubahan social. Pada awal abad ke-20, para
sarjana perempuan di bidang Kitab Suci sudah memperlihatkan kemampuan ilmiah
yang kuat dibidangnya, namun tidak pernah secara sadar bersikap feminis. Baru
pada tahun 1970-an anggota perempuan dari The Society of Biblical Literature
(SBL) menegaskan bahwa pendekatan hermeneutic dari feminis bermanfaat untuk
karya mereka. Selama abad ke-19, sebagai respon terhadap penafsiran Kitab Suci
yang merugikan perempuan, sebagian besar kaum perempuan melakukan sebaliknya,
yakni mereka memproduksi strategi-strategi yang berimplikasi kepada pengagungan
dan kultus terhadap kedudukan perempuan. Jika perempuan dalam agama diciptakan
setelah laki-laki dan dibatasi aktivitasnya hanya pada bidang-bidang tertentu
saja, maka mereka melihat justru inilah letak kekuatan perempuan. Bagi mereka,
realitas ini merupakan suatu tantangan dan merupakan panggilan khusus yang
diberikan Tuhan untuk kaum perempuan.
Perjuangan feminis Kristen kearah melahirkan peradaban
dan kebudayaan yang responsive gender terus dilakukan hingga diabad ke-20 ini.
Tokoh-tokoh feminis Kristen seperti Rosemary L. Ruether berlanjut hingga
sekarang. Ada tiga strategi yang dilakukan feminis Kristen dalam membaca
teks-teks injil yang misoginis, yaitu : pertama, mencari
teks-teks tentang kesetaraan gender untuk menentang teks yang misoginis,
seperti penciptaan perempuan sesudah laki-laki (Kej. 2-3), perempuan berdosa
lebih dulu dari laki-laki (Kej.3, 1 Tim 2: 13-14), tidak memiliki hak suara di
gereja (I Kor 14; 1 Tim 2) dan perempuan harus menempatkan diri dibawah suami
(Ef 5). Teks-teks tersebut merupakan teks-teks misoginis, yang perlu dicari
tandingannya berupa teks-teks yang adil gender. Teks-teks tersebut kurang
popular, karena dalam tradisi patriarchal teks-teks yang misoginis lebih
disukai masyarakat terutama laki-laki untuk melegitimasi status quonya. Karena
itu kalangan feminis menyatakan perlunya reinterpretasi terhadap teks-teks yang
bias gender tersebut.
Kedua, meneliti Kitab Suci secara umum untuk menemukan
perspektif teologis yang mengkritik patriarki. Pendekatan ini dilakukan bukan
dengan cara mengambil langsung ayat-ayat suci sebagai dasar untuk mengembangkan
perspektif teologis yang setara dan adil gender sebagaimana pendekatan pertama,
tetapi dengan cara memahami berita suka cita apa yang ingin disampaikan Kitab
Suci, lalu berdasarkan pemahaman itu berita khusus mengenai perempuan
dirumuskan. Ketiga, menyelidiki teks-teks tentang perempuan untuk
belajar dari sejarah dan kisah perempuan dimasa lalu dan modern yang hidup
dibawah tradisi patriarkhi. Pendekatan ini diperlukan agar teks-teks Kitab Suci
terkait perempuan senantiasa bermakna bagi kepentingan feminis di era modern.
Dalam konteks ini semua teks yang ada akan dilihat dari perspektif perempuan
yang tertindas karena jenis kelaminnya dan orang yang rindu dengan pembebasan.
Strategi lainnya yang bisa digunakan untuk bisa
memahami Alkitab dari pendekatan setara dan adil gender yaitu melakukan
penafsiran ulang untuk menemukan tema-tema pembebasan bagi perempuan. Selain
itu, pendekatan dengan penafsiran melalui penggunaan konteks sosio-historis
Gereja Purba juga bisa menjadi cara untuk memahami teks-teks yang nampaknya
misoginis. Beragam strategi yang diungkapkan kalangan feminis dalam upaya menafsirkan
pesan-pesan moral agama didasari oleh karena adanya cara pandang agama pada
masyarakat patriarchal yang bias gender.
0 komentar:
Posting Komentar