Kamis, 26 November 2015

Tagged Under:

responding paper relasi gender dalam agama kristen

By: Unknown On: 06.57
  • Share The Gag

  • syarah muthia 1113032100069 

    Relasi gender dalam agama kristen
    Injil sebagaimana kitab suci agama lainnya sangat ambigu dalam melihat status perempuan. Satu sisi membela kehidupan perempuan, disatu sisi lainnya menempatkan perempuan pada posisi marginal. Misalnya ditemukan stereotype perempuan sebagai penggoda, tidak memiliki hak untuk menjadi pemimpin ritual dan lain-lain. Namun terdapat pula beragam teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi setara, seperti doktrin tentang penciptaan manusia. Meskipun demikian, teks-teks yang misoginis lah yang justru lebih popular dikalangan umat kristiani dibandingkan dengan teks-teks yang bernuansa kesetaraan. Yaitu ajaran tentang manusia menurut agama Kristen adalah semula manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Tetapi manusia telah memberontak dan selalu akanmemberontak kepada Allah. Semula manusia Adam dan Hawa adalah manusia suci karena mereka diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. tuuan penciptaannya adalah agar manusia dapat bersekutu dengan Allah dan mencerminkan kemuliaan-Nya didunia.
    Disini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, disamping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakikat dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan "Segambar" dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.
    Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12 dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda.Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam.Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak.Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa.Dalam perkembangan selanjutnya peran serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.Dalam berbagai peran, perempuan selalu dibatasi.
    Begitu pula raktek relasi antara laki-laki dan perempuan dalam gereja sangat dipenngaruhi oleh pemhahaman para teolog Kristen terhadap Alkitab. Diktrin tentang kesetaraan gender sebenarnya sudah diungkapkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menjadi fondasi utama bagi umat kristiani, baik secara eksplisit maupun implicit. Namun selama ini doktrin kesetaraan kurang tersosialisasikan dimasyarakat karena penafsiran yang patriarkis lebih fenomenal dibandingkan yang sebaliknya. Doktrin-doktrin yang terkait dengan persamaan dalam penciptaan, merupakan doktrin utama tentang kesetaraan yang kurang diapresiasi. Selama ini doktrin tentang penciptaan selalu dikaitkan dengan ayat-ayat Bibel yang menjelaskan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki dan implikasinya perempuan menjadi manusia kelas dua. Ajaran tentang kesetaraan juga tampak dalam konsep tentang persamaan dalam penebusan dosa dan keselamatan (redemption and salvation). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk penebusan dosa dan keselamatan. Do’a-do’a yang dipanjatkan oleh laki-laki dan perempuan dalam agama Kristen sama-sama akan dikabulkan Tuhan, tanpa rintangan.
    Persamaan relasi suami istri merupakan ajaran tentang kesetaraan gender yang kurang tersosialisasikan. Statement terkait relasi suami istri yang seharusnya saling melengkapi, saling mengasihi, saling berbagi, dan saling menutupi kekurangan masing-masing dapat dilihat dalam Surat St Paul’s kepada orang-orang Korintian. Kewajiban suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang baik dan penuh respect juga menjadi ajaran yang tertea dalam kitab suci. Selain itu, perempuan dan laki-laki memiliki persamaan dalam membantu dan melayani orang lain yang memang membutuhkan, sesuai dengan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci. Perempuan sama seperti laki-laki dipanggil untuk melayani orang-orang lain, menyatakan buah Roh (Galatia 5:22-23), dan untuk memproklamirkan injil kepada mereka yang belum mengetahuinya (Matius 28:18-20; Kisah Rasul 1:8; Petrus 3:15).
    Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus.Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi.Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Namun Tidak ada yang berani melakukannya.Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11)

    ·         Perempuan dalam Perspektif Teologi Kristen
    Laki-laki dan perempuan meskipun berbeda dalam berbagai hal, tetap merupakan pribadi-pribadi yang mempunyai nilai yang sama karena keduanya diciptakan berdasarkan “gambar” Tuhan. Ajaran semacam ini, tampak pada naskah pasca-paulus dalam Perjanjian Baru, yang mensistematisir agama Kristen Patriarkhal.Dengan demikian, ajaran ini berlawanan dengan sistem ajaran Kristen kerakyatan awal.
    Pada gerakan kristen akhir-akhir ini, terdapat banyak aktivis dan pemikir yang memberikan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Grimke misalnya, menyatakan bahwa kelemahan wanita dalam hal intelektualitas dan kepemimpinan bukanlah hal yang alami, namun karena adanya penyimpangan-penyimpangan sosial. Sekali perempuan dibebaskan dari ketidakadilan sosial, maka ia akan mendapatkan hak dan kesempatan yang sama.

    ·         Peran Feminis Kristen
    Kesadaran feminis dalam tradisi Kristen muncul sejak tahun 1820-an. Kesadaran ini terjadi sejalan dengan hasrat yang kuat dari perempuan Amerika untuk melakukan perubahan social. Pada awal abad ke-20, para sarjana perempuan di bidang Kitab Suci sudah memperlihatkan kemampuan ilmiah yang kuat dibidangnya, namun tidak pernah secara sadar bersikap feminis. Baru pada tahun 1970-an anggota perempuan dari The Society of Biblical Literature (SBL) menegaskan bahwa pendekatan hermeneutic dari feminis bermanfaat untuk karya mereka. Selama abad ke-19, sebagai respon terhadap penafsiran Kitab Suci yang merugikan perempuan, sebagian besar kaum perempuan melakukan sebaliknya, yakni mereka memproduksi strategi-strategi yang berimplikasi kepada pengagungan dan kultus terhadap kedudukan perempuan. Jika perempuan dalam agama diciptakan setelah laki-laki dan dibatasi aktivitasnya hanya pada bidang-bidang tertentu saja, maka mereka melihat justru inilah letak kekuatan perempuan. Bagi mereka, realitas ini merupakan suatu tantangan dan merupakan panggilan khusus yang diberikan Tuhan untuk kaum perempuan.
    Perjuangan feminis Kristen kearah melahirkan peradaban dan kebudayaan yang responsive gender terus dilakukan hingga diabad ke-20 ini. Tokoh-tokoh feminis Kristen seperti  Rosemary L. Ruether berlanjut hingga sekarang. Ada tiga strategi yang dilakukan feminis Kristen dalam membaca teks-teks injil yang misoginis, yaitu : pertama, mencari teks-teks tentang kesetaraan gender untuk menentang teks yang misoginis, seperti penciptaan perempuan sesudah laki-laki (Kej. 2-3), perempuan berdosa lebih dulu dari laki-laki (Kej.3, 1 Tim 2: 13-14), tidak memiliki hak suara di gereja (I Kor 14; 1 Tim 2) dan perempuan harus menempatkan diri dibawah suami (Ef 5). Teks-teks tersebut merupakan teks-teks misoginis, yang perlu dicari tandingannya berupa teks-teks yang adil gender.  Teks-teks tersebut kurang popular, karena dalam tradisi patriarchal teks-teks yang misoginis lebih disukai masyarakat terutama laki-laki untuk melegitimasi status quonya. Karena itu kalangan feminis menyatakan perlunya reinterpretasi terhadap teks-teks yang bias gender tersebut.
    Kedua, meneliti Kitab Suci secara umum untuk menemukan perspektif teologis yang mengkritik patriarki. Pendekatan ini dilakukan bukan dengan cara mengambil langsung ayat-ayat suci sebagai dasar untuk mengembangkan perspektif teologis yang setara dan adil gender sebagaimana pendekatan pertama, tetapi dengan cara memahami berita suka cita apa yang ingin disampaikan Kitab Suci, lalu berdasarkan pemahaman itu berita khusus mengenai perempuan dirumuskan. Ketiga, menyelidiki teks-teks tentang perempuan untuk belajar dari sejarah dan kisah perempuan dimasa lalu dan modern yang hidup dibawah tradisi patriarkhi. Pendekatan ini diperlukan agar teks-teks Kitab Suci terkait perempuan senantiasa bermakna bagi kepentingan feminis di era modern. Dalam konteks ini semua teks yang ada akan dilihat dari perspektif perempuan yang tertindas karena jenis kelaminnya dan orang yang rindu dengan pembebasan.
    Strategi lainnya yang bisa digunakan untuk bisa memahami Alkitab dari pendekatan setara dan adil gender yaitu melakukan penafsiran ulang untuk menemukan tema-tema pembebasan bagi perempuan. Selain itu, pendekatan dengan penafsiran melalui penggunaan konteks sosio-historis Gereja Purba juga bisa menjadi cara untuk memahami teks-teks yang nampaknya misoginis. Beragam strategi yang diungkapkan kalangan feminis dalam upaya menafsirkan pesan-pesan moral agama didasari oleh karena adanya cara pandang agama pada masyarakat patriarchal yang bias gender.


    0 komentar:

    Posting Komentar