Kamis, 26 November 2015

Tagged Under:

responding paper relasi gender dalam agama yahudi

By: Unknown On: 06.49
  • Share The Gag

  • syarah muthia 1113032100069 

    Relasi gender dalam agama yahudi
    Dalam ajaran Islam, penciptaan manusia dijadikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuaan, kesetaraan itu ialah sama-sama manusia ciptaan Tuhan. Sedangkan, yang membedakannya adalah takwa kepada Allah (sang pencipta). Memang kebenarannya tidak bisa dihindari bahwa bani Israil (Yahudi) adalah kaum yang diberikan kelebihan terhadap umat yang lain, sebagaimana firman Allah QS. Al-Baqarah:122 :
    “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan aku telah melabihkan kamu atas segala umat”

    Yang Berbeda dalam tradisi Yahudi adalah bahwa laki-laki mempunyai posisi lebih dominan dibandingkan perempuan dengan alasan bahwa suatu perbuatan akan dianggap “suatu kebenaran” jika dilakukan oleh kaum laki-laki.
    Menurut saya, perempuan yang digambarkan dalam tradisi Yahudi sebagai makhluk yang kuat, baik, dan sopan seperti: batsheba sebagai perempuan yang pandai, deborah sebagai nabi perempuan, ruth sebagai orang yang pandai, dan esther seorang juru selamat rakyatnya adalah hanya suatu laqab (julukan) saja bukan merupakan tokoh perempuan Yahudi yang ikut andil dalam memperjuangkan kesetaraan gender, dan sejarah pun mencatat bahwa tidak ada Nabi atau Rasul pun dari golongan perempuan sebagaimana yang digambarkan sebagai deborah. Disisi lain yang melanggar daripada kesetaraan gender dalam agama Yahudi adalah bahwa laki-laki diperbolehkan menikahi perempuan dari agama lain, sedangkan perempuan dilarang menikah dengan laki-laki non Yahudi. Alasannya adalah:
    Pertama, laki-laki yang menikahi perempuan dari agama lain dengan tujuan, mereka tidak ingin ada perempuan dari agama lain yang lebih unggul.
    Kedua, perempuan tidak boleh menjadi bagian dari istri dari suami agama lain.
    Dalam tradisi yang lain pun Yahudi  menjadikan umatnya itu hanya dari kaumnya saja yakni bani israil (keturunan Nabi Yaqub as.), sehingga orang yang ingin pindah ke agama Yahudi pun tidak diperbolehkan masuk kedalam umat Yahudi jika bukan dari golongan bani israil. Didalam buku “Woman in junism: the status of woman in formative junaism” yang dikarang oleh Leonard J. Swidler dikatakan: Para pendeta Yahudi telah memberikan sembilan kutukan yang dibebaskan kepada wanita sebagai hasil dosa Adam dan Hawa. Kepada wanita tuhan memberikan sembilan kutukan dan kematian; beban berupa darah menstruasi dan darah keperawanan, kehamilan, kelahiran, membesarkan anak, penutupan kepala dalam berkabung, menjadi budak melayani tuannya, tidak dipercaya kesaksiannya dan setelah itu semua adalah kematian.
    Ada beberapa catatan yang harus ditandai dalam pernyataan diatas:
    Pertama, ajaran Yahudi memiliki kesamaan dengan ajaran agama Kristen tentang penebusan dosa yang mereka anggap kehadiran al-Masih (Nabi Isa) yang disalib menurut mereka sebagai bentuk penebusan dosa atas dosa yang dilakukan oleh nabi Adam dan Hawa (dosa keturunan) dan berlanjut kepada konsep trinitas.
    Kedua, al-Qur’an menyanggah pernyataan mereka tentang penebusan dosa, sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan kamu sekali-kali tidak dapat menanggung dosa yang lainnya”. Dengan kata lain, tidak ada bagi seseorang itu dosa warisan (dosa keturunan), contohnya seperti pernyataan “Anak haram” (anak hasil dari hubungan gelap).
    Ketiga, Segala yang dialami oleh perempuan merupakan bagian dari qudrat atau taqdir Allah Swt. seperti menstruasi, hamil dan lain sebagainya. Hal ini merupakan tanda bagi kekuasaan Allah swt. bahwa menstruasi merupakan cikal-bakal seorang perempuan dapat melahirkan. Kemudian hamil merupakan hasil dari bertemunya sel (ovum) laki-laki dan perempuan yang dibuahi didalam rahim (janin) perempuan sehingga terbentuklah segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging dan daging tersebut dilapisi dengan tulang, dan ditiupkan ruh Tuhan yang kemudian terciptalah makhluk baru yang benama manusia.
    Keempat, akan dapat dimungkinkan jika “keberadaan wanita” tidak ada, maka kaum laki-laki pun tidak ada sehingga terhapuslah pekembangan spesies manusia di bumi. Adapun citra perempuan dalam tradisi Yahudi; dalam hukum perkawinan agama Yahudi bahwa poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi. Kejadian ini akan kita lebih pahami dan ketahui bahwa sesungguhnya pada konteks dahulu sudah menjadi suatu kebiasaan atau tradisi yang tidak dapat disingkirkan tentang banyaknya jumlah isteri yang dimiliki oleh seorang laki-laki, contohnya seperti para Nabi/Rasul pun memiliki isteri yang banyak mencapai lebih dari seratus orang dan ada juga yang kurang dari itu seperti nabi Muhammad saw.. Hal tersebut bukan berarti bahwa mereka melakukannya hanya berdasarkan mengikuti “nafsu” belaka melainkan mereka melakukannya dalam hal berdakwah dan menghasilkan keturunan yang banyak lagi terhormat.
    Dalam konteks sekarang pun banyak pula kita ketahui ada yang memiliki isteri sampai berpuluh-puluhan orang yang tentunya diluar agama Islam atau sebaliknya, ada seorang perempuan yang memiliki suami sampai berpuluh-puluhan. Mungkin saja hal ini merupakan akibat reaksi yang timbul dari anggapan bahwa perempuan pun bisa melakukan poligami sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki atau mungkin dikarenakan HAM yang menjadikan setiap orang bebas melakukan sesukanya tanpa ada batasannya, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang didapat dari kejadian tersebut. Konteks Yahudi pada masa kini tentang perjuangannya dalam menciptakan nilai-nilai kesetaraan gender merupakan masalah yang masih kontroversi, alasannya adalah mereka menghormati kaum wanita sebagaimana mereka menghormati Ibu kandungnya, sedangkan jika kita lihat perang yang dilakukan kaum zionis (Israel) kepada wanita-wanita Palestina, baik dari kalangan anak-anak maupun ibu-ibu hingga menimbulkan banyak korban jiwa merupakan bagian dari pertentangan mereka terhadap hak-hak “hidup” kaum perempuan, meskipun dengan alasan perbedaan agama maupun kepentingan politik. Jika mereka ikut andil dalam mengangkat keberadaan perempuan, seharusnya mereka pun melakukan hal yang sama terhadap perempuan yang beragama lain atau bangsa lain sehingga terciptanya rasa kemanusiaan.

    0 komentar:

    Posting Komentar